Sabtu 11 Apr 2020 04:23 WIB

Yagemi Siapkan Program Buku Masuk Rumah 

Program Buku Masuk Rumah bertujuan  mendorong literasi keluarga.

Pengurus Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi)  menggelar diskusi tentang menjaga kesehatan lahir batin melalui kegiatan literasi.
Foto: Dok Yagemi
Pengurus Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi) menggelar diskusi tentang menjaga kesehatan lahir batin melalui kegiatan literasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi), terus menggelorakan semangat membaca menuju literasi penuh agar masyarakat makin menyadari bahwa menjaga kesehatan lahir dan batin adalah kewajiban pribadi sebagai manusia yang berpikir, berakhlak, dan berkarakter. Program ini dilakukan melalui kegiatan “Buku masuk rumah secara bergiliran”. 

Ketua Yagemi, Firdaus Umar mengatakan,  Yagemi menyiapkan sistem yang telah diuji coba sejak beberapa tahun yang lalu. Tiap paket buku yang dikrim secara bergilir ke rumah-rumah terdiri dari bacaan anak-anak, remaja, dan bacaan untuk orang tua.

“Konten-konten bacaan diutamakan yang berkaitan dengan kehidupan, kesehatan, kewirausahaan, pendidikan, keagamaan, dan buku-buku praktis lainnya,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id. 

Hal ini, kata dia, sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI tentang Pengembangan Kapasitas Masyarakat Desa berkaitan dengan Literasi Desa. Kegiatan ini wajib dilakukan melalui kegiatan swakekola oleh desa secara partisipatif dengan mendayagunakan keuangan desa. Kebijakan ini sangat relevan dengan situasi aktual yang dihadapi bangsa saat ini.

“Kondisi yang kita alami saat ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, bahwa rumitnya persoalan yang kita hadapi terkait dengan wabah ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakat yang kurang menyadari pentingnya pencegahan secara sosial. Masyarakat terlanjur panik dan melakukan hal-hal yang justeru memperburuk keadaan, mengedepankan semosi daripada nalar. Hal-hal ini semestinya tidak terjadi, dan kita akan mampu mengendalikan keadaan dengan baik,” paparnya. 

Program buku masuk rumah ini juga sangat relevan dengan kondisi terbatasnya bacaan masyarakat. Apapalgi di saat larangan berkumpul, maka perpustakaan di daerah tidak dapat dikunjungi, sekolahpun harus di rumah. “Nah keberadaan buku di rumah ini juga dapat mengatasi keterbatasan bahan belajar di rumah sebagaimana yang dirasakan saat ini,” tuturnya. 

Firdaus menjelaskan, Pustaka Bergilir Buku Masuk Rumah (PB-BMR) adalah sistem penyediaan dan pengantaran buku bacaan ke rumah-rumah yang sesuai untuk keluarga Indonesia. Buku diantarkan secara bergilir ke rumah-rumah setiap 15 hari oleh petugas. 

“Setiap orang dalam keluarga dapat membaca 24 judul buku dalam setahun. Proses ini akan mempercepat program penguatan kemampuan literasi masyarakat desa sebagaimana yang diprogramkan pemerintah. Ini merupakan strategi jangka panjang agar kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik,” paparnya.

Ia menjelaskan, program ini telah mengalami serangkain proses dari pengembangan dan uji coba langsung melalui program Gerakan Nagari Membaca di Nagari Paninjauan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tahun 2014-2015 dan percontohan di Nagari Saoklaweh tahun 2016-2018 dengan jumlah rumah  950 rumah, 4.233 jiwa dengan 4.750 buah buku. 

“Desa percontohan ini meraih juara 1 tingkat nasional pada Lomba Perpustakaan Umum Terbaik (Desa/Kelurahan) tahun 2018. Sistem ini juga sudah tercatat sebagai Hak Cipta PB-BMR, yang ditetapkan melalui Surat Hak Cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,” tuturnya.

Berdasarkan uji coba tersebut, keunggulan sitem ini antara lain adalah setiap orang dalam rumah (bapak, ibu, dan tiga orang anak) dapat membaca paling sedikit 24 judul buku bacaan. Hal ini menguatkan pondasi literasi sejak dini dalam keluarga.

“Oleh karena ini bersifat masal, maka harga buku menjadi murah sehingga meringankan beban belanja negara, dan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat,” papar Firdaus Umar. 

Firdaus mengungkapkan, akhir pekan lalu Yagemi menggelar diskusi tentang menjaga kesehatan lahir batin melalui kegiatan literasi (membaca, menulis dan menyimak). Diskusi tersebut dihadiri para pengurus Yagemi, antara lain Zulfikri Anas (pakar pendidikan) dan Afrizal Sinaro (praktisi pendidikan dan perbukuan).

“Menjaga kesehatan diri lahir dan batin adalah amanah bagi setiap individu yang menyadari bahwa dia adalah hamba Allah yang senantiasa bersyukur. Apalagi dalam suasana wabah yang melanda negeri ini dan dunia. Kemampuan literasi sangat diperlukan agar wabah menular ini tidak makin meluas,” kata Zulfikri Anas. 

Ia menambahkan,dikatakan demikian karena kedahsyatan pola penyebaran penularan virus seperti saat ini dapat dikendalikan apabila masing-masing individu bebar-benar paham dengan langkah-langkah pencegahannya, dan jika dipelajari langkah-langkah itu tidak sulit dan memang harus dilakukan dalam keseharian  sebagai manusia makhluk yang berpikir. 

“Misalnya kebiasaan menjaga kebersihan anggota tubuh, cuci tangan, cuci muka, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi agar rubuh kita memiliki kekebalan yang kuat, menjaga jarak dengan orang lain ketika kita sedang mengalami gangguan kesehatan, mengatur pola makan, dan mendisiplinkan diri dalam segala hal, tidak panik, namun waspada,” papar Zulfikri yang juga merupakan pengurus Yayasan Indonesia Emas.

Afrizal Sinaro menambahkan, membaca bukan sekedar kemampuan merangkai huruf, kata, atau kalimat. Lebih dari itu, membaca adalah membangun logika, nalar, dan pemahaman sehingga kita mampu menata kehidupan yang lebih baik. 

“Ketika logika dan nalar tertata dengan baik, maka kita dengan mudah melakukan hal-hal yang sulit, bukan sebaliknya, hal-hal mudah sepertinya sulit dilakukan,” kata Afrizal.

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement