Rabu 04 Mar 2020 07:15 WIB

Risiko Kesehatan Mental Intai Ibu yang Punya Anak di Usia Terlalu Muda

Menikah dan memiliki anak di usia terlalu muda membuat ibu berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Ibu dan bayinya. Menikah dan memiliki anak di usia terlalu muda membuat ibu berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ibu dan bayinya. Menikah dan memiliki anak di usia terlalu muda membuat ibu berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Risiko kesehatan mental mengintai perempuan yang menikah dan memiliki anak di usia yang terlampau muda. Studi oleh tim RS Anak McMaster di Ontario, Kanada, mengungkap bahwa para ibu di bawah usia 21 tahun rentan mengidap depresi dan gangguan kecemasan.

Menjadi ibu di umur tersebut sudah cukup berat, ditambah temuan bahwa dua per tiga dari mereka bergulat dengan satu masalah kesehatan mental. Hampir 40 persen ibu di bawah 21 tahun juga berpotensi mengalami lebih dari satu jenis masalah kesehatan mental.

Baca Juga

Masalah tersebut antara lain depresi, gangguan kecemasan, serta hiperaktivitas. Risikonya empat kali lebih besar dibandingkan perempuan dengan rentang usia sama yang belum menjadi ibu serta dikomparasi dengan ibu yang berusia di atas 21 tahun.

Dikutip dari laman Health Day, hasil studi sudah dipublikasikan secara daring via Journal of Adolescent Health. Tim melakukan wawancara diagnostik dengan 450 ibu di bawah 21 tahun serta 100 ibu di atas 21 tahun sepanjang 2012-2015.

Penulis studi, Ryan Van Lieshout, menjelaskan bahwa risiko itu belum termasuk depresi pascamelahirkan yang juga kerap diidap ibu muda. Dia berharap hasil studi memicu kemitraan antara tempat perawatan kesehatan, organisasi pendidikan, dan layanan sosial.

Ibu muda dapat menghadapi banyak kesulitan, baik sebelum dan sesudah menjadi orang tua. Namun, selama ini sangat sedikit yang diketahui tentang tingkat dan jenis masalah kesehatan mental yang signifikan di antara para ibu muda tersebut.

Lieshout dan tim berinisiatif menggagas penelitian untuk lebih memahami masalah mereka. Dengan demikian, semua pihak dapat membantu memenuhi kebutuhan populasi yang rentan itu, juga meningkatkan kesejahteraan mental ibu muda dan keluarga.

"Temuan kami dapat digunakan untuk lebih efektif mendeteksi masalah kesehatan mental pada ibu muda dan perawatannya," kata Lieshout yang merupakan profesor madya di bidang psikiatri dan perilaku neurosains di Universitas McMaster.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement