Selasa 14 Jan 2020 01:42 WIB

Review 'Abracadabra', Memang Bukan untuk Dimengerti

Film genre fantasi amat jarang di Indonesia.

Rep: Thomas Rizal (cek n ricek)/ Red: Thomas Rizal (cek n ricek)
Sumber: Fourcolours Film
Sumber: Fourcolours Film

CEKNRICEK.COM -- Film dengan genre fantasi coba untuk disajikan Fourcolours Film melalui Abracadabra (2020). Film garapan sutradara Faozan Rizal ini sudah tayang di bioskop tanah air, mulai Kamis (9/1). Jika Anda merupakan penonton dengan karakter rasional, rasanya tidak akan pas menonton film ini.

Namanya juga fantasi, jadi tentu adegan-adegan yang ada dari film hanyalah fantasi sang sutradara dan penulis naskah. Jangan heran apabila penonton merasa alur yang diciptakan dalam film juga tidak pas dan membuat kebingungan.

Mungkin penonton akan bertanya-tanya, mengapa pemeran-pemeran kawakan sekelas Reza Rahadian, Butet Kertaradjasa, Dewi Irawan, Jajang C Noer hingga Lukman Sardi ingin main dalam film seperti ini. Jawabannya mungkin sesuai dengan judul OST Abracadabra yang dibawakan Kill The DJ, "Ngalor Ngidul".

Sumber: Fourcolours Film

Baik para sutradara dan pemeran ingin sama-sama ber-ngalor ngidul ria. Jadi tak perlu susah-susah para penonton untuk bisa mengerti alur, adegan dan motivasi dari karakter yang disajikan dalam film, sebab film ini memang diciptakan bukan untuk dimengerti, melainkan cukup dinikmati apapun itu.

Abracadabra menceritakan seorang magician alias pesulap bernama Lukmansyah (Reza Rahadian), yang mulai tidak percaya lagi dengan yang namanya magic alias keajaiban. Saat ingin membuktikan bahwa di dunia ini memang tidak ada yang namanya keajaiban, Lukman malah menghilangkan seorang anak melalui atraksi dengan kotak peninggalan sang ayah, yang juga merupakan Master sulap.

Semakin Lukman berusaha mengerti misteri dalam kotak tersebut, semakin dirinya tidak mengerti tentang kehidupannya sendiri. Semakin penonton berusaha mengerti alur cerita yang disajikan dalam film ini, semakin tidak mengerti pula penonton memahami imajinasi sang sutradara.

Sumber: Fourcolours Film

Perpindahan adegan dari satu adegan ke adegan lain memang terkesan tidak nyambung. Beberapa bagian juga seperti dipaksakan. Akibatnya penonton, khususnya penonton yang menyukai film-film dengan tipe rasional tidak akan tertarik menikmati film ini.

Sebenarnya ada benchmark film fantasi dari luar seperti The Imaginarium of Doctor Parnassus (2009) misalnya, yang membuktikan bahwa film fantasi tak seharusnya memang hanya imajinasi dan tidak layak dimengerti. Namun, mengingat film genre fantasi amat jarang di Indonesia, mungkin tidak ada salahnya tetap memberikan kredit untuk eksperimental sang sutradara dalam menyajikan film ini.

Akting Reza juga masih bisa dinikmati, dengan ciri khas penonjolan wataknya seperti yang biasa dibawakan. Begitu pula dengan komedi khas Kertaradjasa yang dibantu oleh Ence Bagus dan Imam Darto, yang sedikit banyak memberikan hiburan dalam film ini.

Baca Juga: Review 'Underwater', Gado-Gado yang Tak Enak

Pujian layak diberikan kepada aspek sinematografi film, yang memang mampu membawa penonton seolah-olah ke dunia fantasi. Pengambilan gambar juga dilakukan di Yogyakarta yang ditampilkan tidak seperti yang biasa masyarakat Indonesia kenal.

Pada akhirnya, setelah menonton film ini mungkin penonton akan kesal karena menghabiskan waktu menyaksikan 86 menit film yang tidak bisa dimengerti. Namun percaya tidak percaya, sebenarnya dengan menonton film ini Anda telah turut menikmati imajinasi sang sutradara, meski mungkin Anda tidak mengetahui apakah itu.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement