Rabu 08 Jan 2020 22:20 WIB

Soal Kental Manis, Pakar: Semua Makanan Saling Melengkapi

Pakar mengingatkan tak ada makanan/minuman tunggal yang bisa penuhi kebutuhan gizi.

Polemik susu kental manis. Pakar mengingatkan tak ada makanan/minuman tunggal yang bisa penuhi kebutuhan gizi seseorang.
Foto: republika
Polemik susu kental manis. Pakar mengingatkan tak ada makanan/minuman tunggal yang bisa penuhi kebutuhan gizi seseorang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Achmad Syafiq, tak sepakat dengan pandangan yang menyebut bahwa kental manis merupakan penyebab gizi buruk. Ia mengatakan, hal itu bertolak belakang dengan pengertian faktor risiko dan penyebab gizi buruk secara statistik.

Syafiq mengungkapkan, anak yang mengalami gizi buruk lebih banyak yang tidak konsumsi kental manis. Menurutnya, semua jenis makanan saling melengkapi.

Baca Juga

"Tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang, jadi konsumsi produk pangan memang tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan peruntukannya," papar Syafiq.

Dalam kondisi masalah gizi ganda di Indonesia, menurut Syafiq, pemberian informasi harus tepat, akurat dan jelas targetnya. Masalah gizi ganda tampak dari adanya sebagian anak Indonesia mengalami kelebihan gizi, tetapi sebagian lainnya kekurangan gizi.

 

"Dalam kasus ini, tidak dapat disimpulkan bahwa susu kental manis (SKM) maupun krimer kental manis (KKM) adalah satu-satunya faktor yang berhubungan dengan gizi kurang atau gizi buruk, tetapi sangat mungkin ada faktor-faktor lainnya," katanya.

Menurut Syafiq, gula dalam kental manis bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia menjelaskan bahwa produk kental manis aman dikonsumsi.

"Susu kental manis adalah produk yang mengandung susu, sementara krimer kental manis kandungan susunya tidak sebanyak susu kental manis," ungkap Syafiq.

Lebih lanjut, Syafiq mengatakan, gula dalam susu kental manis dibutuhkan untuk mencegah kerusakan produk, mengingat susu kental manis tidak boleh menggunakan bahan pengawet sehingga produk harus dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis). Dalam proses pembuatannya, air dari susu diuapkan ditambahkan gula yang juga berfungsi sebagai pengawet.

Studi yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat Aisyiyah dan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) menyatakan bahwa susu kental manis mengakibatkan gizi buruk pada anak di beberapa daerah, seperti Provinsi Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara. Penelitian ini menyebutkan bahwa dari 1.835 anak usia 0-5 tahun yang terdata, 12 persen mengalami gizi buruk dan 23,7 persen gizi kurang.

Hasil tersebut didapat dengan rincian 14,5 persen anak dengan status gizi buruk mengonsumsi SKM/KKM lebih dari satu kali dalam sehari. Sedangkan 29,1 persen anak dengan status gizi kurang mengonsumsi SKM/KKM lebih dari satu kali dalam sehari. Artinya, ada sejumlah 79.0 persen anak gizi buruk yang tidak konsumsi SKM.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr Erna Yulia, menjelaskan bahwa susu kental manis (SKM) selama ini dianggap sebagai pengganti susu oleh sebagian masyarakat. Padahal, sebenarnya produk tersebut hanyalah pelengkap makanan.

"Pemahaman bahwa SKM sebagai pengganti susu ini terus kami galakkan pada masyarakat," kata Erna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (30/12/2019).

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Cendika Indonesia (YAICI), Arif Hidayat, mengatakan pola makan dan asupan tidak sehat juga menjadi salah satu faktor pemicu penyakit tidak menular. Ia mengungkapkan, konsumsi terlalu banyak gula merupakan  salah satu faktor pemicu penyakit diabetes.

"Apalagi bila gula tersebut dikonsumsi anak-anak sejak masih balita. Ini sangat berbahaya karena berpotensi menjadikan anak tersebut menderita diabetes ketika ia berada pada usia produktif," kata Arif.

Salah satu kondisi dimana anak-anak mengonsumsi gula secara berlebihan, menurut Arif, adalah anak yang meminum SKM secara berlebihan sejak masih berusia di bawah lima tahun.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement