Ahad 22 Dec 2019 08:48 WIB

Survei: Perempuan Pensiunkan Baju Setelah Posting Instagram

Penggemar mode biasanya pensiunkan baju setelah fotonya diunggah ke Instagram.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda
Media sosial Instagram. Survei memperlihatkan 75 persen perempuan pensiunkan bajunya yang sudah pernah ditampilkannya di Instagram.
Foto: EPA
Media sosial Instagram. Survei memperlihatkan 75 persen perempuan pensiunkan bajunya yang sudah pernah ditampilkannya di Instagram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gerakan sustainable fashion dan mindful spending saat ini sedang digalakkan. Salah satu cara untuk menjalankan gerakan ini adalah dengan menyewa pakaian.

CEO Rentique Dea Amira mengatakan, industri fashion memang merupakan penyumbang sampah kedua terbesar setelah industri minyak dan gas. Menurutnya, riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen penggemar fashion Indonesia lebih memilih belanja produk fast fashion karena harga yang lebih terjangkau dibandingkan koleksi desainer.

Baca Juga

Akan tetapi, ternyata usia pemakaian produk mode yang dibeli hanya dua hingga tiga kali setelah pembelian. Perilaku ini mendorong lebih banyak limbah tekstil yang terproduksi.

"Kalau satu orang belanja tiga produk saja, dalam sebulan ada 12 bulan berarti 36 produk," ujar Dea.

Menurut Dea, konsumen fast fashion jarang sekali memakai produk yang dibelinya berulang-ulang. Umumnya, mereka hanya tiga kali mengenakannya lalu memensiunkannya karena koleksi barunya cepat rusak, entah bulukan atau benangnya copot.

"Itulah permasalahan industri fashion, orang tendensinya beli fast fashion, tapi mereka juga tetap enggak puas dengan koleksi yang ada," paparnya beberapa waktu lalu.

Hal ini sesuai dengan survei yang dilakukan Rentique, perusahaan yang menyediakan platform digital untuk penyewaan pakaian rancangan desainer. Penelitian yang dilakukan kepada 500 responden di usia 24 sampai 35 menyatakan bahwa 68 perempuan mengeluarkan Rp 1,5 juta untuk produk fast fashion setiap bulannya.

Selain itu, 75 persen perempuan mengaku setelah mengunggah foto busananya di Instagram, mereka tidak akan mengenakannya lagi. Sebanyak 92 persen perempuan mengaku bahwa mereka tidak memiliki pakaian yang layak untuk dikenakan untuk menghadiri acara yang spesial.

Sebanyak 75 persen perempuan setuju bahwa satu fast fashion dress hanya akan dikenakan dua sampai tiga kali setelah pembelian. Sementara itu, Ellen MacArthur Foundation, lembaga riset ternama di dunia, dalam laporannya “A New Textiles Economy: Redesigning Fashion’s Future”, melaporkan bahwa perilaku penikmat fashion yang “sekali pakai-lupakan” menyumbang 500 ribu ton mikrofiber ke alam setiap tahunnya dan mengancam keberlangsungan lingkungan.

Merespons fakta itu, Dea menyarankan untuk membeli baju karya desainer yang sudah terkenal kualitasnya. Bila tidak sanggup membeli, penggemar mode bisa menyewanya melalui Rentique.

"Melalui Rentique, kami menawarkan nilai lebih, mereka bisa mendapatkan banyak pilihan untuk lebih fashionable sekaligus berkontribusi dalam meminimalisir limbah tekstil dunia," ujarnya.

Menurut Dea, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap sewa pakaian untuk mendukung gerakan sustainable fashion makin tinggi. Mereka bangga berkontribusi terhadap lingkungan.

"Millenial sangat peduli dengan yang dibeli dan digunakan. Mereka ingin tahu dari mana sumbernya pakaian yang dibelinya. Itulah mengapa kami tahu mereka sadar sustainable di luar," jelasnya.

Penyewaan pakaian di Indonesia ini baru saja menjadi tren sejak tahun lalu. Sementara di luar negeri sudah dimulai sejak 2008.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement