Senin 08 Jul 2019 19:20 WIB

Ayah, Pikirkan Ini Sebelum Berpoligami

Psikolog mengingatkan ayah yang ingin berpoligami untuk mempertimbangkan dampaknya.

Menikah (Ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Menikah (Ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Psikolog dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Aceh, Endang Setianingsih, menyarankan para suami untuk memikirkan secara matang sebelum berpoligami. Ia mengingatkan, poligami bisa berdampak pada pada gangguan psikologis anak dalam keluarga.

"Sebaiknya sebelum berpoligami, pikirkan dampak positif dan negatif karena tidak sedikit orang yang berpoligami kurang memberikan perhatian pada anak-anaknya dan hal ini berpotensi mengganggu psikologis anak," kata Endang saat dihubungi dari Banda Aceh, Senin (8/7).

Baca Juga

Pernyataan ini disampaikan Psikolog P2TP2A Provinsi Aceh ketika dimintai tanggapannya terkait Rancangan Qanun (Raqan) hukum keluarga dan dalam salah satu pasal melegalkan poligami yang sedang dibahas oleh Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Menurut Endang, poligami juga berpotensi memicu rasa benci anak kepada ayahnya sendiri karena tidak sedikit di antara anak-anak merasa ibunya disakiti hatinya atau dikhianati oleh sang ayah.

"Kemudian, poligami bisa memicu kerenggangan hubungan antara anak dengan orang tuanya, terutama pada ayah dan tidak jarang malah anak merasa kurang kasih sayang dan perhatian sehingga anak berpotensi menjadi nakal," ungkap Endang.

Selain itu, menurut Endang, poligami juga dapat memicu kemerosotan pada moral anak karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Ia mengatakan, anak bisa menganggap tidak ada pegangan hidup atau sandaran pada keluarga yang utuh.

"Dampak dari poligami akan muncul rasa ketidakadilan, sehingga menimbulkan rasa benci bagi sosok atau figur orang tua kemudian, timbul rasa ketidakpercayaan anak pada keluarganya," papar psikolog P2TP2A Provinsi Aceh.

Endang mengatakan, kondisi psikologis anak ini perlu menjadi pertimbangan para orang tua agar tidak menganggu proses belajar generasi penerus masa depan bangsa. Untuk itu, ia menyerukan agar orang tua sebaiknya lebih memikirkan kepentingan anak daripada kepentingan pribadi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement