Rabu 19 Jun 2019 07:41 WIB

Cerita Merah Putih dari Sekaleng Cat di Perbatasan NTT

Rumah Merah Putih mengangkat tema nasionalisme lewat kacamata anak-anak.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari
Para pemeran dan sosok balik layar film Rumah Merah Putih.
Foto: Republika/Dwina Agustin
Para pemeran dan sosok balik layar film Rumah Merah Putih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ari Sihasale kembali ke industri film Indonesia. Dia kembali membawa anak-anak daerah yang kali ini berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mengisahkan kehidupan mereka di perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Proyek yang akan rilis di bioskop pada 20 Juni ini merupakan film pertama dari Alenia Pictures setelah lima tahun tidak merilis film baru. Rumah Merah Putih mencoba kembali membawa cerita anak-anak yang bisa ditonton untuk segala kalangan dari semua umur.

Rumah Merah Putih menceritakan tentang masyarakat di desa Silawan, Belu. Setiap menjelang 17 Agustus mereka mendapatkan jatah cat merah putih. Hanya saja, Farel (Petrick Rumlaklak) justru menghilangkan cat yang sudah diberikan padanya.

Agar tidak mendapatkan omelan dari orang tuanya, dia bersama sahabatnya Oscar (Amori De Purivicacao) mencoba banyak cara agar mendapatkan cat warna merah dan putih. Mereka mengumpulkan uang dengan berbagai cara agar bisa membeli cat tersebut.

Tapi, membeli dua kaleng cat ini ternyata tidak mudah. Selalu ada masalah yang menghampiri mereka, hingga kecelakaan yang menimpa Oscar pun terjadi, ketika dia jatuh saat melakukan panjat pinang.

Ketika melihat cuplikan singkat film Rumah Merah Putih akan sangat terasa benang nasionalisme yang sangat kuat akan digaungkan. Cerita dua kaleng cat merah-putih menjadi pengantar untuk kisah-kisah yang lain, termasuk bagaimana anak-anak dari perbatasan Indonesia menunjukan rasa cinta Tanah Air.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement