Selasa 23 Apr 2019 10:00 WIB

Setelah Terbang ke New York, Pramugari Koma Akibat Campak

Data 2019 mencatat 555 orang terkena campak di New York.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari
Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.
Foto: EPA
Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang pramugari (43 tahun) untuk maskapai El Al Airlanes Israel terbaring koma akibat terserang virus campak pada 31 Maret lalu, pascapenerbangan Israel-New York. Kondisinya kini masih buruk, bahkan ia dikabarkan mengalami ensefalitis atau peradangan otak.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Israel Eyal Basson menyebut, kini pramugari tersebut juga harus bernapas dengan bantuan respirator di Meir Medical Center Israel. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan kondisi tersebut bisa terjadi pada satu dari 1.000 orang yang terserang virus campak.

Baca Juga

Kondisi ini lebih umum terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 20 tahun. Virus campak juga dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, tuli atau kematian.

Pejabat kesehatan Israel juga telah memperingatkan orang-orang yang berada di dalam penerbangan El Al yang sama dengan pramugari, untuk mencari perawatan medis jika mereka terserang demam. Karena demam seringkali merupakan tanda pertama dari penyakit yang sangat menular.

Gejala yang mungkin juga termasuk pilek, batuk, mata merah, kepekaan terhadap cahaya dan ruam merah gelap, biasanya muncul antara 10 hingga 14 hari setelah terpapar campak, dengan kemungkinan rentang 6 hingga 21 hari.

Campak dianggap salah satu virus paling menular di dunia. Tidak seperti influenza patogen, yang menyebar ketika seseorang bersin atau batuk tetapi kemudian jatuh, virus campak tetap menggantung di udara seperti partikel debu yang sangat ringan.

"Virus campak juga memungkinkan untuk bertahan dan melayang hingga dua jam," kata Dr Martin Cetron direktur Divisi Migrasi Global dan Karantina CDC seperti dikutip New York Times, Selasa (23/4).

Pejabat kesehatan Israel telah mengirim surat ke maskapai penerbangan di Israel dan merekomendasikan agar semua staf diimunisasi dengan dua dosis vaksin terhadap campak. Perusahaan penerbangan El Al hanya mengatakan bahwa ia telah beroperasi sesuai dengan arahan Kementerian Kesehatan dan menolak komentar lebih lanjut.

Taylor Garland, juru bicara Association of Flight Attendants, sebuah serikat yang mewakili hampir 50 ribu pramugari di 20 maskapai penerbangan menyampaikan duka cita atas peristiwa ini. Ia berharap pramugari tersebut bisa segera pulih.

Dari 1 Januari hingga 1 April, setidaknya terjadi 555 kasus campak dikonfirmasi di Amerika Serikat. Ini adalah jumlah kasus terbesar kedua yang dilaporkan di Amerika Serikat sejak campak dinyatakan hilang pada tahun 2000.

CDC merekomendasikan, setidaknya setiap orang harus menerima dua dosis vaksin MMR untuk melindungi terhadap campak, gondong dan rubella. Bayi yang bepergian ke luar negeri harus mendapatkan dosis pertama pada usia 6 bulan hingga 11 bulan. Semua anak harus divaksinasi pada usia 12 hingga 15 bulan, dan dari usia 4 hingga 6 tahun. Remaja dan orang dewasa juga harus mutakhir dengan vaksinasi mereka.

Sementara untuk status vaksinasi pramugari El Al tidak dapat dikonfirmasi karena dia dirawat di rumah sakit. Ibunya mengatakan dia menerima semua vaksinasi yang direkomendasikan. Namun, antara tahun 1971 dan 1977 ketika pramugari masih kecil kecil, rekomendasi di Israel hanya untuk satu vaksinasi campak. Sementara rekomendasi saat ini untuk orang dewasa, termasuk pelancong ke luar negeri, adalah untuk dua dosis.

International Air Transport Association (asosiasi perdagangan untuk maskapai penerbangan dunia) menyatakan tidak melacak maskapai mana yang mungkin memerlukan vaksinasi terhadap campak. Tetapi sebagian besar negara memiliki undang-undang yang mendorong pengusaha dan karyawan untuk menerima imunisasi campak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement