Selasa 09 Apr 2019 08:09 WIB

Tujuh Kebiasaan yang Merusak Otak (1)

Ada kebiasaan hidup sehari-hari yang dapat merusak otak.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda
Manusia cerdas berotak cemerlang.
Foto: pixabay
Manusia cerdas berotak cemerlang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai pengatur dan koordinator segala aktivitas dalam tubuh, otak adalah salah satu organ terpenting. Organ ini juga memiliki kemampuan untuk berubah dan beradaptasi dengan kebutuhan.

Sifat otak yang demikian dikenal dengan istilah plastisitas. Tak heran jika kemudian ada kebiasaan hidup sehari-hari yang bisa merusak otak. Apa sajakah bentuknya?

Melewatkan sarapan

Seperti dilansir laman Hhd Research, sarapan merupakan makanan terpenting sepanjang hari. Melewatkannya dapat menyebabkan kadar gula darah rendah dan itu sangat merusak otak, terutama jika itu sering terjadi.

Otak menggunakan lebih banyak energi daripada organ lain di dalam tubuh. Ia memakan hingga 20 persen dari total glukosa yang tersedia dalam sistem metabolisme setiap hari.

Sekitar dua per tiga dari "anggaran energi" otak digunakan untuk membantu neuron melepaskan sinyal ke seluruh tubuh. Sepertiga sisanya ditujukan untuk pemeliharaan dan perawatan seluler.

Secara teratur, menolak asupan nutrisi otak menyebabkan defisit dalam anggaran energi itu. Jadi, jangan heran jika otak menjadi kurang responsif terhadap rangsangan. Tanpa disadari, sel-sel otak juga akan kehilangan perawatan kritis yang dibutuhkan untuk menjadi sehat dan akan mati pada tingkat yang dipercepat.

Kurang tidur

Kurang tidur akan membuat orang merasa lamban dan pelupa pada hari berikutnya. Itu terjadi karena kurang tidur merampas kemampuan neuron untuk berfungsi dengan baik.

Kurang tidur dapat mengarah pada penyimpangan mental yang dapat memengaruhi pekerjaan dan hubungan Anda. Lebih dari itu, indera dan refleks juga bisa tumpul  sehingga membuat orang berisiko besar mengalami kecelakaan berbahaya.

Kurang tidur kronis dapat membuat efek ini permanen. Jadi, luangkanlah waktu untuk tidur dengan benar dan rasakan peningkatan produktivitas di hari berikutnya.

Makan berlebihan

Studi mengungkapkan hubungan yang mengejutkan antara obesitas dan demensia. Alasannya tidak jelas, tetapi para peneliti menduga bahwa obesitas terjadi ketika makanan yang dimakan kurang gizi.

Kondisi itu mengarah pada keinginan untuk makan berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin dan mineral. Jadi, bahkan jika sudah makan banyak, otak masih merasa kelaparan.

Merokok

Banyak penelitian telah dilakukan tentang efek merusak dari merokok. Kebiasaan merokok merusak membran sel dan kelayakan saraf di area otak yang mengatur keseimbangan, koordinasi, dan keterampilan motorik halus dan kasar. Merokok juga menipiskan korteks, di mana proses termasuk bahasa, memori, dan persepsi terjadi.

Berhentilah merokok sekarang juga demi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tentunya, langkah bijak itu dapat membantu kesehatan otak juga.

Para peneliti telah menemukan bahwa penghentian kebiasaan merokok dapat mengembalikan ketebalan korteks yang hilang. Meski begitu, mantan perokok berat yang tidak kembuh selama lebih dari 25 tahun pun tetap memiliki korteks yang lebih tipis daripada mereka yang tidak pernah merokok.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement