Senin 04 Mar 2019 14:34 WIB

Psikolog: Anak di Bawah 7 Tahun Jangan Diajak Berpikir Rumit

Anak paling tepat mempelajari calistung di usia tujuh tahunan

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Christiyaningsih
Anak belajar/ilustrasi
Foto: lpgchildcare.com
Anak belajar/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Pengajaran baca, tulis, dan hitung (calistung) untuk usia dini masih menjadi polemik hingga saat ini. Padahal materi tersebut sudah dilarang diterapkan dalam ujian masuk SD oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Putri Saraswati memberi penjelasan. Dari sisi psikologi, anak di bawah usia tujuh tahun belum boleh memahami suatu hal secara menyeluruh. Mereka hanya diperkenankan mengenal semisal angka, huruf, warna, arah, bentuk, dan sebagainya.

Di usia tersebut, kata dia, anak belum mampu diajak berpikir rumit. Dari sisi perkembangan kognitifnya pun belum berada di tahap demikian. "Mereka masih berada dalam fase yang perlu dikaitkan dengan hal-hal menyenangkan," kata Putri saat dihubungi Republika belum lama ini.

Jika anak dipaksa mempelajari hal rumit, Putri khawatir anak dapat tertekan dan menolak untuk belajar. "Itu jangka pendek. Kalau jangka panjang, anak yang sudah tertekan dari awal, maka di tengah jalan bisa lelah, capek, sudah malas belajar. Ketika dipaksa, akan makin tertekan dan jenuh nantinya," tegasnya.

Menurut Putri, usia paling tepat mempelajari calistung justru di usia tujuh tahunan. Di fase ini ia meyakini perkembangan anak sudah cukup siap menerima pembelajaran tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement