Selasa 01 Jan 2019 04:15 WIB

Tinggal di Lingkungan Hijau Lebih Mungkin Jauh dari Stres

Pembuluh darah jadi lebih sehat dan mengurangi risiko serangan jantung dan strok.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Gita Amanda
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Alun-alun Regol, Jalan Pasirluyu Selatan, Kelurahan Pasirluyu, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Rabu (7/2).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Alun-alun Regol, Jalan Pasirluyu Selatan, Kelurahan Pasirluyu, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Rabu (7/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Sebuah studi menunjukkan orang-orang yang tinggal di lingkungan ruang hijau lebih mungkin terhindar dari stres. Tak hanya itu, pembuluh darah menjadi lebih sehat dan memiliki risiko serangan jantung dan strok yang lebih rendah daripada penduduk masyarakat tanpa banyak tempat rekreasi di luar ruangan.

Para peneliti menguji berbagai biomarker stres dan risiko penyakit jantung dalam sampel darah dan urin dari 408 pasien di klinik kardiologi di Louisville Kentucky. Mereka juga menggunakan data satelit dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) dan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) untuk memperkirakan tingkat kehijauan tempat setiap orang tinggal.

Dibandingkan dengan orang-orang di daerah dengan jumlah ruang hijau paling sedikit, penghuni lingkungan paling hijau memiliki kadar hormone epinefrin urin yang lebih rendah (tingkat stres lebih rendah). Selain itu, orang yang tinggal di daerah yang lebih hijau memiliki kapasitas lebih tinggi untuk mempertahankan pembuluh darah yang sehat daripada penghuni tempat tanpa banyak ruang hijau.

Penulis studi senior University of Louisville, Aruni Bhatnagar, mengungkapkan besarnya efek dan luasnya pengaruh penghijauan terhadap kesehatan sangat mengejutkan. “Jika hasil penelitian ini sesuai, itu berarti sering berinteraksi dengan alam dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko penyakit jantung,” kata Bhatnagar melalui email, seperti yang dilansir dari Reuters, Senin (31/12).

Partisipas dalam penelitian ini rata-rata berusia 51 tahun. Sebagian besar kelebihan berat badan dan banyak memiliki tekanan darah tinggi atau kolesterol tinggi. Mayoritas tinggal di daerah dengan ruang hijau terbatas.

Selain ukurannya kecil, penelitian ini juga eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah ruang hijau dapat secara langsung mengurangi stres atau meningkatkan kesehatan jantung atau pembuluh darah. Namun hubungan antara penghijauan perumahan dan tingkat yang lebih rendah dari beberapa penanda masalah jantung tetap bertahan.

Bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang secara independen dapat mempengaruhi risiko penyakit jantung. Mulai dari usia, jenis kelamin, etnis, status merokok, penggunaan statin pasien untuk mengontrol kolesterol, kemiskinan lingkungan, dan kedekatan dengan polusi dari asap lalu lintas.

“Meskipun sebagian besar kota-kota AS, mereka yang berstatus sosial ekonomi lebih tinggi hidup di daerah lebih hijau. Kami secara statistik menyesuaikan pendapatan dan pendidikan di lingkungan itu. Tampaknya efek kehijauan tidak bergantung  pada status sosial ekonomi,” ujar Bhatnagar.

Peneliti kesehatan lingkungan di Danville Pennsylvania  yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Annemarie Hirsch mengatakan ada kemungkinan ruang hijau dapat mendorong lebih banyak aktivitas fisik. Kepadatan pohon dan semak yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan kualitas udara dengan mengurangi kadar beberapa polutan.

“Ruang hijau dapat meningkatkan rasa kohesi sosial, faktor yang telah dikaitkan dengan kesehatan dan kesejahteraan dengan memfasilitasi interaksi dengan tetangga,” kata Hirsch. Lebih banyak tanaman hijau juga bisa membuat orang berada dalam suasana yang lebih baik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement