Kamis 06 Dec 2018 20:54 WIB

Bayangan Soal Sosok Suami Bisa Pengaruhi Masa Depan Wanita

Pandangan soal calon suami ini bahkan mempengaruhi karier yang dipilih

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sepasang suami istri/ilustrasi
Foto: Republika/Prayogi
Sepasang suami istri/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiap perempuan yang belum menikah mungkin memiliki bayangan tersendiri mengenai sosok laki-laki yang akan menjadi suami masa depan mereka. Pandangan perempuan terhadap laki-laki ini ternyata dapat memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap masa depan mereka. 

Hal ini diungkapkan oleh tim peneliti dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin. Sebelum mencapai kesimpulan tersebut, tim peneliti melajukan sebuah percobaan terhadap mahasiswi-mahasiswi berusia 18-25 tahun yang belum menikah di Amerika Serikat dan Kanada. Para partisipan yang terlibat merupakan mahasiswi-mahasiswi yang memiliki keinginan untuk berumah tangga di masa mendatang. 

Dalam percobaan ini, para partisipan hanya mengetahui bahwa mereka merupakan bagian dari sebuah penelitian yang bertujuan untuk melihat pengaruh data statistik terhadap kehidupan sehari-hari. Para partidipan lalu mendapatkan beragam data statistik dan grafik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Beberapa di antaranya adalah data mengenai angka kebiasaan merokok, tren persepsi serta konsumsi buah dan sayur. Selain itu, para partisipan juga mendapatkan grafik mengenai angka laki-laki yang menjadi 'ayah rumah tangga'.

Akan tetapi, data grafik mengenai angka laki-laki yang menjadi 'ayah rumah tangga' ini telah dimanipulasi oleh tim peneliti. Sebagian pertisipan mendapatkan data grafik yang menunjukkan bahwa angka 'ayah rumah tangga' mengalami peningkatan yang cukup drastis dari 4 persen menjadi 12 persen. 

Data ini disertai dengan keterangan seperti 'Prevalensi Tinggi Ayah Rumah Tangga' atau keterangan 'Angka-angka ini diperkirakan akan terus meningkat dengan pola yang sama dalam dua dekade mendatang'. Sedangkan partisipan lain mendapatkan data grafik sebaliknya. Mereka mendapatkan data grafik yang menunjukkan bahwa angka 'ayah rumah tangga' tidak mengalami perubahan yang signifikan. 

Data ini disertai dengan keterangan seperti 'Prevalensi Rendah Ayah Rumah Tangga' atau keterangan 'Angka-angka ini diperkirakan akan tetap rendah dalam dua dekade mendatang'. Setelah melihat grafik-grafik ini, para partidipan diminta untuk memberikan respon terhadap beberapa pertanyaan. 

Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan bagaimana para partisipan membayangkan kehidupan mereka sendiri 15 tahun ke depan. Termasuk apakah mereka membayangkan diri mereka sebagai istri yang mengasuh keluarga atau istri yang mencari nafkah untuk keluarga. Percobaan ini menunjukkan hasil yang serupa baik di Amerika Serikat maupun di Kanada. Mahasiswi yang mendapatkan data peningkatan angka ayah rumah tangga cenderung akan melihat diri mereka sebagai pencari nafkah di masa mendatang. 

Sedangkan mahasiswi yang mendapatkan data penurunan angka ayah rumah tangga cenderung membayangkan diri mereka sebagai ibu rumah tangga yang merawat keluarga di masa mendatang. Tim peneliti menilai kecenderungan ini cukup menarik, mengingat para partisipan merupakan mahasiswi yang biasanya lebih berorientasi pada karier. 

Para Mahasiswi ini semula diperkirakan akan tetap mematahkan pandangan stereotipe gender tradisional. Ternyata, ekspektasi para mahasiswi ini terhadap pasangan mereka di masa depan memiliki pengaruh langsung terhadap peran apa yang ingin mereka jalani di masa mendatang. 

"Ini menunjukkan bagaimana pilihan peran dari perempuan mandiri dapat dipengaruhi oleh ekspektasi mereka terhadap suami masa depan mereka," terang assistant professor dari UA Department of Psychology sekaligus ketua peneliti Alyssa Croft. 

Dari temuan ini, tim peneliti menyimpulkan bahwa ekspektasi perempuan mengenai calon pasangannya memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap masa depan perempuan. Ekspektasi ini tak hanya dapat mempengaruhi pengambilan keputusan mengenai pendidikan perempuan tetapj juga keputusan mengenai pilihan karier mereka di masa mendatang.

"Ekspektasi-ekspektasi tersebut bisa memiliki dampak terhadap apa yang perempuan akan dan bisa lakukan dalam hidup mereka sendiri," ungkap Croft. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement