Senin 06 Aug 2018 17:22 WIB

Ray Sahetapy Sutradarai Pertunjukan Teater Tuli

Pertunjukan berlangsung tanpa kata, hanya gerakan yang mengalir seperti cerita.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Indira Rezkisari
Pemain pentas Sunyi dalam Bunyi, di Teater Kecil, Ahad (5/8).
Foto: Republika/Retno Wulandhari
Pemain pentas Sunyi dalam Bunyi, di Teater Kecil, Ahad (5/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Tidak ada suara yang terdengar dari mulut para pemain di atas panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di sepanjang pertujukkan teater, pemeran di atas panggung terlihat sibuk melakukan gerakan isyarat, beberapa diantaranya dipadukan dalam tarian.

Pentas teater ini ditampilkan oleh kelompok seni Teater Tujuh. Diberi tajuk Sunyi dalam Bunyi, kekuatan pertunjukan teater terletak pada luwesnya gerakan pemain.

Meski tidak ada kata yang terlontar, semua gerakan terlihat mengalir seolah bercerita menggantikan seribu kata-kata. Ketiadaan dialog dalam pertunjukkan ini dikarenakan para pemainnya memang merupakan insan tuli.

Sunyi Dalam Bunyi disutradarai oleh aktor kawakan Ray Sahetapi. Menurut Ray, salah satu tujuan diselenggarakannya pentas teater ini untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa orang tuli juga bisa berkarya.

"Kami sudah berlatih selama tiga bulan untuk mengungkapkan gagasan dari teman-teman tuli yang selama ini tersembunyi dari masyarakat," ujar Ray, Ahad (5/8).

Ray mengaku senang Teater Tujuh bisa mewadahi kreativitas teman tuli yang selama ini tidak begitu dianggap. Melalui pentas seni ini, mereka yang tuli bisa mengungkapkan cerita dan pengalaman masing-masing agar dapat dipahami tidak hanya oleh sesama mereka tetapi juga bagi penonton yang mendengar.

Ray melihat selama ini kaum tuli kurang ditanggapi secara serius padahal mereka mempunyai gagasan yang luar biasa dan tidak bisa dianggap remeh. Menurut Ray, untuk menjadi bangsa dan negara yang besar, Indonesia harus terhadap berbagai gagasan masyarakatnya termasuk gagasan dari mereka yang tuli.

Dua anak Ray bersama Dewi Yull terlahir tuli. "Anak saya dua tuli, anak pertama dan ketiga," katanya.

Menurut Ray, sebenarnya anak-anaknya tersebut tak ada bedanya dengan anak-anak lain. Pemahaman banyak orang terhadap mereka yang tuli di Indonesia namun belum sebaik di luar negeri. Hal tersebut menjadi keprihatinan Ray.

"Di luar mereka dianggap dan merasa senang bisa membantu menginformasi orang tuli. Sementara di Indonesia mereka ditakuti, dianggap aneh."

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement