Kamis 19 Jul 2018 04:09 WIB

Daging Olahan Tingkatkan Risiko Episode Manik

Nitrat pengawet daging dapat mempengaruhi otak dan bakteri usus.

Rep: Sri Handayani/ Red: Indira Rezkisari
Daging olahan berupa dendeng sapi.
Foto: Flickr
Daging olahan berupa dendeng sapi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian menyebutkan makan daging olahan bisa meningkatkan risiko orang dengan bipolar mengalami episode manik. Orang yang mengonsumsi daging olahan memiliki risiko tiga setengah kali lipat untuk dirawat dirumah sakit karena manik.

Episode manik merupakan bagian dari gangguan bipolar yang dulu sering disebut 'manic depression'. Kondisi ini ditandai dengan gejala hiperaktif, euforia, dan tidak bisa tidur. Hal ini menimpa dua di antara 100 orang, termasuk presenter Stephen Fry dan aktris Hollywood, Carrie Fisher.

Baru-baru ini, para peneliti dari Universitas Johns Hopkins melakukan riset kepada lebih dari seribu orang, termasuk mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Mereka ditanya apakah pernah makan daging yang kering. Para peneliti di Universitas Johns Hopkins bertanya kepada orang-orang apakah mereka pernah makan daging yang dikeringkan atau diawetkan.

Hasil penelitian itu menunjukkan, sosis sapi atau sosis babi dan ham kering tidak terkait dengan peningkatan fase manik. Sementara salami dan prosciutto tidak terkait dengan mania, 'stik daging' (meat stick) yang diawetkan disebut dapat meningkatkan risiko rawat inap.

Para peneliti mengatakan, nitrat yang digunakan sebagai pengawet daging dapat mempengaruhi otak dan bakteri usus. Jumlah nitrit oksida dalam darah orang dengan gangguan bipolar terbukti lebih tinggi.

"Di masa mendatang, intervensi diet bisa membantu menurunkan risiko episode manik pada orang dengan gangguan bipolar atau orang yang rawan terhadap manik," kata Peneliti Utama, yaitu Robert Yolken dari Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

Baca juga: Bermain Gim Komputer Bisa Perbaiki Kesehatan Mental

Untuk menguji efek nitrat dalam daging olahan, para peneliti menambahkan zat tersebut dalam menu makanan tikus. Hanya dalam beberapa pekan, tikus-tikus itu menunjukkan tanda-tanda manik.

Dalam studi yang dilakukan pada manusia, para partisipan ditanya apakah mereka pernah makan daging olahan dalam bentuk kalkun, dendeng, yang menunjukkan tanda-tanda mania setelah hanya beberapa minggu.

Dalam studi manusia, orang-orang ditanya apakah mereka sudah makan stik daging dalam bentuk daging kalkun dan dendeng, 'stik daging', ham kering atau sosis. Seperti diketahui, stik daging dan dendeng merupakan makanan ringan yang cukup populer di Amerika Serikat. Nitrat juga terdapat dalam sosis, irisan daging babi dan burger, walaupun jumlahnya lebih sedikit.  

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry. Di dalamnya ditemukan bahwa nitrat mengubah bakteri usus pada tikus. Hal ini disinyalir terkait dengan masalah kesehatan mental. Temuan ini memperkuat hasil riset sebelumnya bahwa memberikan probiotik pada orang dengan gangguan bipolar, yang bertujuan mengatasi gangguan usus, mengurangi risiko rawat ulang.

Daging olahan juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker usus. Yolken mengatakan, ada berbagai menu yang ditemukan dalam penelitian tersebut. Namun, daging yang diawetkan menjadi pilihan yang benar-benar menonjol.

Seorang rekan peneliti yang melakukan percobaan pada tikus, Seva Khambadkone, menambahkan bahwa mania adalah keadaan neuropsikiatrik yang kompleks. Kerentanan genetik dan faktor lingkungan bisa saja mempengaruhi tingkat kemunculan dan keparahan gangguan bipolar dan episode mania.

"Hasil (penelitian) kami menunjukkan bahwa daging yang diawetkan dengan nitrat bisa menjadi salah satu media perantara yang menyebabkan manik," ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement