Jumat 27 Apr 2018 07:47 WIB

Menilai Kualitas Pertemanan Anak

Beberapa pertemanan bisa memberi dukungan positif dan mengurangi stres anak di rumah.

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Winda Destiana Putri
Anak-anak sedang bermain/ilustrasi
Anak-anak sedang bermain/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hubungan persahabatan memainkan peran penting dalam psikologis dan perilaku anak-anak, terutama ketika mereka melalui masa transisi dari anak-anak ke remaja. Beberapa pertemanan bisa memberi dukungan positif dan mengurangi stres anak di rumah.

Penelitian terbaru diterbitkan dalam Jurnal Child Development mengukur tingkat kognisi seorang anak tentang kejadian-kejadian negatif dan ambigu di sekitar mereka, serta intensitas emosional anak. Profesor di Departemen Pengembangan Manusia dan Studi Keluarga di Iowa University, Nancy McElwain mengatakan dirinya tertarik untuk mengetahui kognisi dan emosi anak-anak yang berinteraksi dengan sesama mereka.

"Kami ingin tahu apakah mereka lebih kooperatif dan positif, atau justru konfliktual dan negatif," kata McElwain, dilansir dari Science Daily.

 

McElwain dan rekannya, Xi Chen memeriksa data dari 913 anak di mana 50 persennya adalah laki-laki. Mereka diamati dalam serangkaian percobaan interaktif pada dua kelompok anak kelas empat dan enam.

Anak-anak yang cenderung menganggap niat temannya tulus, cenderung tidak emosional, lebih prososial, dan berbagai lebih banyak tawa serta interaksi positif ketika mereka masih kelas empat. Anak-anak cenderung menganggap niat temannya tidak tulus, terkadang mengobarkan permusuhan, bahkan muncul hasrat ingin menyerang teman ketika mereka kelas enam atau saat usia beranjak remaja.

Ada cara dapat dilakukan orang tua dan guru untuk membantu anak-anak yang beranjak remaja mengembangkan hubungan berkualitas. Emosi kuat pada anak jika dipadukan dengan kognisi positif akan mendorong interaksi posititif. Orang dewasa bisa membantu dengan mencontohkan pandangan positif tentang peristiwa negatif ke anak.

"Misalnya, teman anak Anda menumpahkan susu ke buku pelajaran anak Anda. Anda bisa mengatakan, "Ibu rasa dia tak bermaksud menumpahkan susu ke bukumu. Itu kecelakaan yang tak disengaja." Alih-alih bertanya bagaimana kejadiannya, orang tua lebih baik memberi pandangan positif pada anaknya," kata Paul.

 

Saat remaja, anak semakin mampu berdiskusi dan merefleksikan kognisi mereka sendiri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement