Selasa 23 Jan 2018 11:16 WIB

Batasi Penggunaan Gadget pada Anak

Anak lebih baik melakukan permainan yang melibatkan motorik kasar dan halus.

Mengenalkan gadget sebelum usia dua tahun akan mempengaruhi perkembangan anak. Semua aspek perkembangan anak, mulai dari fisik, bahasa, emosional, sosial, dan intelektual.
Foto: buybymom
Mengenalkan gadget sebelum usia dua tahun akan mempengaruhi perkembangan anak. Semua aspek perkembangan anak, mulai dari fisik, bahasa, emosional, sosial, dan intelektual.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA --  Orang tua sebaiknya membatasi penggunaan "gadget" atau gawai pada anak agar anak tidak sampai kecanduan. Anak sebaiknya lebih diarahkan kepada aktivitas yang melibatkan motorik kasar dan motorik halus.

"Bila orang tua sudah telanjur mengenalkan 'gadget' pada anak, harus ada pembatasan penggunaan seperti hanya boleh pada waktu-waktu tertentu," kata Psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jane Cindy saat dihubungi di Jakarta, Selasa (23/1).

Cindy mengatakan pembatasan penggunaan gawai misalnya tidak boleh pada hari sekolah, yaitu Senin hingga Jumat. Pada saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu pun sebaiknya penggunaan gawai dibatasi, misalnya masing-masing 30 menit pada pagi hari dan sore hari.

"Sehingga dalam seminggu anak hanya menghabiskan waktu dua jam untuk bermain 'gadget', yaitu masing-masing 30 menit pada Sabtu pagi, Sabtu sore, Minggu pagi dan Minggu sore," tuturnya.

Cindy lebih menyarankan agar orang tua tidak memberikan gawai sama sekali kepada anak, terutama yang masih berusia di bawah dua tahun. Namun, bukan berarti anak usia tiga tahun ke atas bisa bebas diberikan gawai.

Dari pada bermain menggunakan gawai, lebih baik anak melakukan permainan yang melibatkan motorik kasar maupun motorik halus.

Permainan yang melibatkan motorik kasar antara lain berlari dan melompat, sedangkan permainan yang melibatkan motorik halus antara lain menggambar, mewarnai dan memasukkan koin ke dalam celengan. "Permainan-permainan itu sangat berguna untuk menstimulasi perkembangan motorik anak," ujarnya.

Selain permainan yang melibatkan sensor motorik, Cindy juga menyarankan orang tua agar bermain dengan anak yang melatih persepsi visual spasial, fungsi sensosi dan koordinasi visual motorik.

Permainan yang melatih persepsi visual spasial seperti "puzzle" atau balok susun, sedangkan permainan yang dapat melatih fungsi sensori seperti bermain dengan tekstur pasir, cat air dan busa. Beberapa olah raga permainan juga bisa melatih koordinasi visual motorik seperti lempar tangkap bola, bulu tangkis, dan basket.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement