Selasa 08 Nov 2016 21:37 WIB

Ahmad Fuadi: Sastra Rantau Perlu Diapresiasi

Para pemenang Bilik Sastra VOI Award 2016 diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah, Ahad (6/11/2016).
Foto: Irwan Kelana/Republika
Para pemenang Bilik Sastra VOI Award 2016 diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah, Ahad (6/11/2016).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Novelis Ahmad Fuadi menyatakan kagum terhadap para penulis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terus berkarya di tengah kesibukan dan segala keterbatasan mereka. Mereka terdiri mahasiswa, buruh migran Indonesia (BMI) maupun masyarakat umum.

“Para penulis rantau itu tetap mau berkarya menulis cerpen, sajak dan novel. Meskipun tantangan yang mereka hadapi sering kali tidak ringan,” kata Ahmad Fuadi pada acara penganugrahan Bilik Sastra  Voice of Indonesia (VOI) Award 2016 dan dialog bertajuk “Karya Anak Bangsa di Perantauan” di Jakarta, Ahad (6/11).

Fuadi mengaku sangat menghargai  karya para penulis Indonesia yang berada di tanah rantau itu. “Saya sangat menghargai para penulis rantau itu. Sastra rantau perlu diapresiasi,” tutur Fuadi.

Novelis yang juga mantan wartawan itu menambahkan, apresiasi juga patut  diberikan kepada RRI, khususnya Siaran Luar Negeri (VOI) yang secara rutin menyelenggarakan Bilik Sastra VOI Award  kepada para penulis Indonesia yang tinggal di luar negeri. “Saya mengapresiasi RRI dan Pipiet Senja yang bersama-sama mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra rantau, khususnya melalui kegiatan Bilik Sastra,” papar penulis novel “Negeri 5 Menara” dan “Ranah 3 Warna” itu.

Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri LPP RRI Eddy Sukmana mengatakan Bilik Sastra Award dilaksanakan sejak tahun 2011. Kegiatan tersebut diikuti oleh para penulis Indonesia yang tinggal di luar negeri. “Mereka ada yang merupakan buruh migran Indonesia (BMI), mahasiswa/pelajar dan umum,” tuturnya.

Para pemenang Bilik  Sastra VOI Award 2016 adalah  Justto Lasoo (buruh migran Indonesia/ BMI yang bekerja di Taiwan) dengan cerpennya yang berjudul “Ayah”, Yesi Armand Sha (BMI yang bekerja di Hongkong) dengan cerpennya yang berjudul “Langit Berwarna Hitam”, dan Erna Eruna (mahasiswa Indonesia di Turki) dengan cerpennya yang berjudul “Seiris Prasangka”.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement