Rabu 31 Aug 2016 11:01 WIB

Mengenal Oshiya, Si Pendorong Penumpang Kereta Jepang

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Indira Rezkisari
Oshiya sedang bekerja mendorong penumpang masuk ke kereta di Jepang.
Foto: Amusing Planet
Oshiya sedang bekerja mendorong penumpang masuk ke kereta di Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, Transportasi kereta merupakan salah satu yang paling dikenal dari Negeri Matahari, Jepang. Tidak hanya keunggulan dan ketepatan waktunya, transportasi ini juga menjadi primadona masyarakat.

Di kota besar Tokyo, hampir 40 juta penumpang menggunakan kereta dan angka ini per hari jelas melebihi pengguna bus maupun mobil pribadi. Dengan kata lain, seperti dikutip laman Amusing Planet pada Rabu (31/8), 22 persen dari 8,7 juta masyarakat Jepang memanfaatkan transportasi ini.

Kereta-kereta di Tokyo selalu ramai penumpang apalagi di jam kerja. Kendaraan ini biasanya akan datang setiap lima menit selama 24 jam.  Meski sudah banyak jumlah keretanya, transportasi ini acap terlihat penuh. Bahkan, Menteri Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi sempat mengungkapkan data tingkat kepenuhan kereta bawah tanah pada 2007. Hampir dipastikan kapasitasnya melebihi pada umumnya, yakni mencapai 200 persen.

Dalam rangka untuk memenuhi  penumpang ke dalam kereta bawah tanah, stasiun pun mulai mempekerjakan para staf berseragam. Staf ini pun kemudian dikenal sebagai ‘oshiya’ atau 'pendorong'. Tugas mereka  untuk menjejalkan orang sebanyak mungkin ke dalam trem kereta bawah tanah.  Sarung tangan pun dikenakannya untuk memudahkan mendorong orang ke kereta, sehingga pintu dapat ditutup.

Saat pertama kali dikenal di Stasiun Shinjuku Tokyo pada 1967, mereka lebih sering disebut sebagai staf pengatur penumpang. Kebanyakan para pekerja ini merupakan mahasiswa atau pelajar yang bekerja paruh waktu. Namun untuk saat ini, mungkin tidak terdengar lagi dedikasi dari para 'pendorong' ini. Sebab, staf stasiun dan para paruh waktu yang mengambil alih tugas ini.

Meski menjadi fenomena di Jepang, pendorong penumpang di kereta merupakan kreasi Amerika dan bermula terjadi di New York hampir seabad lalu. Mereka namun tidak disukai karena mendorong penumpang secara kasar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement