Rabu 24 Oct 2012 06:31 WIB

Tahayul di Universitas Harvard (1) Tuah Sepatu John Harvard

Rep: Nasihin Masha/ Red: M Irwan Ariefyanto
pa
Foto: Nasihin Masha
pa

REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE – Tahayul rupanya bukan monopoli Indonesia, di Universitas Harvard, Massachusetts, Amerika Serikat, juga banyak tahayul. Salah satunya adalah tentang tuah patung sepatu Jonh Harvard.

Patung John Harvard adalah salah satu lokasi favorit para wisatawan ke kampus Harvard, salah satu kampus paling bergengsi di Amerika Serikat. Kampus yang berada di kota Cambridge tersebut banyak dkunjungi wisatawan.

Beverly Garretts, yang menjadi pemandu tetap rombongan pengusaha Rachmat Gobel ke kampus ini menyebutkan jumlah wisatawan itu bisa ratusan, bahkan ribuan setiap harinya. “Ini wisata gratis. Tak perlu bayar,” katanya kepada Republika, Senin (22/10) waktu AS atau Selasa (23/10) waktu Indonesia.

Universitas yang berdiri pada 1636 ini awalnya bernama College at Newtowne yang didirikan Massachusetts Legislature. Namun pada 1638 bernama Harvard College. Ini karena kedermawanannya. Ia menyumbangkan 400 koleksi bukunya dan setengah kekayaannya untuk college tersebut.

Harvard adalah imigran dari Inggris pada 1637. Untuk mengenangnya, dibuatlah patungnya. “Namun tak ada orang yang tahu bagaimana rupa Harvard,” kata Angie Peng, pemandu tour.

Semua koleksi fotonya hangus terbakar ketika perpustakaan universitas terbakar. Sehingga tak ada yang ingat wajah Harvard. Mereka akhirnya mencari model dari mahasiswa paling ganteng di Harvard. “Tak ada yang ingat siapa mahasiswa tersebut,” kata Angie.

Namun berdasarkan tulisan di sisi kiri patung yang dibuat dari logam, tertulis bahwa modelnya adalah Sherman Hoar (mahasiswa angkatan 1882). Patung tersebut didesain Daniel Chester French.

Jadilah patung tersebut di Harvard Square. Setiap orang yang berfoto selalu memegang sepatu kiri patung Harvard sehingga warnanya menjadi mengkilap. Ada mitos bahwa yang memegang sepatu itu akan mendapat keberuntungan atau anaknya bisa sekolah di Harvard.

Namun seorang mahasiswa menjelaskan sesuatu yang wajar ketika berfoto sambil memegang patung tersebut. Dudukan patung sangat tinggi, sehingga hanya sepatu itu yang bisa dijangkau untuk dipegang. “Tapi itulah mitos,” kata Angie.

Ini yang menarik, ternyata sepatu kiri-kanan yang sering dipegang wisatawan itu menjadi tujuan pengencingan oleh mahasiswa Harvard. Di malam musim salju, ada semacam upacara bagi mahasiswa angkatan tertentu. Mereka berlari di tengah malam yang dingin dengan telanjang bulat. Salah satu ritualnya, mereka bergantian mengencingi sepatu patung Harvard.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement