REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS - Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Jultin Ginanjar Kartsasmita mengungkapkan regenerasi pembatik menjadi tanggung jawab bersama, terutama sejumlah pihak yang berkecimpung di bidang batik tulis.
"Sejak batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia, pembinaan batik, terutama proses regenerasi pembatik menjadi tanggung jawab kita," ujarnya saat berkunjung ke Workshop Pelatihan Galeri Batik Kudus di Kudus, Senin (10/9).
Pasalnya, kata dia, UNESCO secara periodik akan melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan batik di Tanah Air, pascapemberian pengakuan atas batik Indonesia. Sebelumnya, kata dia, pihak UNESCO juga sempat mempertanyakan proses regenerasi pembatik karena banyak pembatik saat itu sudah berusia lanjut.
Ia mengaku, bersyukur karena sejumlah pihak cukup peduli terhadap proses regenerasi pembatik, terutama di sentra batik di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, sudah banyak pembatik yang berusia muda. Dengan demikian, lanjut dia, tanggung jawab dalam memajukan pertumbuhan batik, terutama proses regenerasi pembatik sudah terpenuhi.
Untuk menciptakan generasi pembatik, katanya, dibutuhkan dukungan masyarakat, terutama orang yang mendapat pelatihan membatik. "Tanpa disertai motivasi dan kerja keras, maka untuk menciptakan pembatik berkualitas akan sulit terwujud," ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, untuk membuat batik dengan motif tertentu, butuh kesabaran karena tingkat kesulitannya juga cukup tinggi. Selain mendorong sejumlah pihak untuk membina generasi pembatik, Yayasan Batik Indonesia juga berupaya memperjuangkan materi batik masuk ke dalam kurikulum pendidikan.
Hasilnya, kata dia, sudah ada beberapa sekolah yang memasukkan materi batik ke dalam kurikulum pendidikan, seperti di Solo serta ITB yang membuka jurusan batik. Untuk meningkatkan motivasi pengrajin batik di sejumlah daerah di Tanah Air, katanya, setiap tahun digelar pameran batik sebagai ajang promosi dan kompetisi antarpembatik dalam menghasilkan batik berkualitas.
Menurut dia, masyarakat di Tanah Air tidak boleh terlalu membanggakan diri atas batik tulis yang ada di Indonesia, karena beberapa negara di dunia juga mulai meminati dan mengembangkan batik, antara lain Malaysia, Thailand, Amerika, Jepang, Afrika, dan India.
Kedatangannya ke Kudus, salah satunya sebagai bentuk perhatian pengurus Yayasan Batik Indonesia untuk memantau perkembangan batik di daerah. Selain berkunjung ke Kudus, rombongan pengurus Yayasan Batik Indonesia juga akan berkunjung ke daerah penghasil batik yang pertumbuhannya mulai lesu, seperti di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang dan Sidoarjo, Jawa Timur.