Ahad 17 Jun 2012 21:03 WIB

'Pengamen' Angklung Pukau Warga Kota Zytglogge Bern

Angklung
Foto: Antara Foto
Angklung

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Musik angklung yang dimainkan kelompok Angklung Melati Bern diperdengarkan kepada masyarakat yang berada di jalanan kota Zytglogge, Bern, Swiss.

"Adalah impian dari Lia Fossati pimpinan grup angklung Melati Bern untuk 'mengamenkan' angklung di jalan-jalan utama kota Bern Switzerland," kata Pensosbud KBRI Bern Mohammad Budiman Wiriakusumah kepada ANTARA London, Ahad (17/6).

Sebanyak 20 pemain angklung yang berasal dari latar belakang dan kewarganegaraan yang berbeda tersebut memainkan empat buah lagu di sekitar Gereja Munster dan Zytglogge.

Lagu lain yang dimainkan adalah berasal dari tanah batak Alu Siau, dan lagu berbahasa Perancis dan Jerman dimana salah satunya mengiringi nyanyian dibawakan Irina Grischkova.

Melati Bern yang beranggotakan Jens, Annie, Mahir Pradana, Irina Grischkova, Chloe, Sri Wahyuni, Ochid Nahdi, Arpan Ramadhani, Pesche, Mo, Melissa Moningka, Novembrina, Maria Nikijuluw, Abraham Wirutomo, David Schneiter, Lia dan Luigi Fossati berlatih angklung setiap hari Rabu malam.

Permainan angklung berhasil menarik penonton bukan saja menikmati permainan yang dibawakan namun juga mencermati serta mengagumi kreativitas seni bangsa Indonesia angklung alat musik sederhana namun mampu menghasilkan nada-nada khas yang indah.

Para pengamen jalanan harus memiliki izin resmi dari instansi yang berwenang dan mendaftar jauh-jauh hari dari kepolisian yang nantinya akan memberikan otorisasi waktu dan tempat yang diizinkan untuk pertunjukan jalanan ini.

Selain kelompok angklung Melati Bern, di Swiss juga terdapat kelompok angklung Padasuka di kota Zurich dibawah pimpinan Andreas Diriwachter.

Padasuka, yang anggotanya sebagian besar warga senior menguasai hampir semua lagu Indonesia, mulai lagu daerah hingga lagu-lagu patriotic melakukan latihan setiap Kamis malam. Padasuka angklung dimainkan bersama dengan Alphorn alat musik tradisional Swiss.

Baik Lia Fossati maupun Andreas Diriwachter sepakat bahwa semua orang dapat memainkan angklung namun tidak semua dapat memaknainya, karena pemain angklung wajib merasakan nyawa dari setiap lagu yang dibawakan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement