Ahad 29 Apr 2012 11:50 WIB

200 Seniman dan 30 Kelompok Musik Ramaikan Gamelan Gathering

Gamelan
Gamelan

REPUBLIKA.CO.ID, YORK - Lebih dari 200 seniman dari 30 kelompok musik gamelan di Inggris berkumpul dalam acara Gamelan Gathering memperingati 30 tahun keberadaan gamelan Sekar Petak di Universitas York, Inggris, empat jam perjalanan dari London, Sabtu malam.

Dalam acara Gamelan Gathering selain digelar diskusi dan seminar mengenai gamelan juga diadakan pertunjukkan wayang semalam suntuk dengan dalang bule Ki Matthew Cohen di gedung Roger Kirk, Universitas York, Inggris.

"Tidak ada persiapan khusus dalam pagelaran wayang malam ini," ujar dalang Bule Ki Matthew Cohen kepada koresponden ANTARA London, Sabtu malam sebelum tampil membawakan lakon Lokananta, atau Gamelan Playerless.

Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk memadukan berbagai alat musik seperti alat musik dari skotlandia bagpipe, Irlandia, drum, trompet dan musik keroncong memukau sekitar 500 penonton termasuk Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris Raya Hamzah Thayeb dan Ny Lastry Hamzah Thayeb serta Atase Pendidikan KBRI London Fauzi Soelaiman dan istri.

"Pertunjukan wayang yang luar biasa dengan memadukan berbagai alat musik modern," ujar Dubes Hamzah Thayeb kepada ANTARA London, Sabtu malam yang mengakui bahwa di tanah air jarang menyaksikan pagelaran wayang.

Dubes Hamzah Thayeb menyatakan kekagumannya terhadap apresiasi masyarakat Inggris akan kesenian dan kebudayaan tradisional Indonesia seperti gamelan. Pertunjukan wayang di York malam ini merupakan sebuah kesempatan langka dan menjadi bukti akan rasa kedekatan antarmasyarakat kedua negara, ujarnya.

Menurut Dubes, melalui berbagai aktivitas, konser dan pagelaran yang dilakukan, para pemusik dan penggemar gamelan di Inggris ikut membantu mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat umum di Inggris.

Sementara itu Deputi Vice Chancellor and Pro Vice Chancellor for Student Universitas York Dr Jane Grenvile mengatakan Universitas York merupakan institusi di Inggris yang pertama kali memiliki gamelan Jawa.

Banyak pemain gamelan professional , guru maupun komposer mengawali karirnya di bidang musik gamelan setelah mendapat pendidikan di York sebelum membuat grup di berbagai negara, ujarnya.

"Kami ingin bersama sama merayakan 30 tahun gamelan di York dan mengajak semua untuk tampil dalam pementasan wayang semalam suntuk yang menampilkan budaya tradisional Jawa yang mendapat sentuhan seni kontemporer Inggris," katanya.

Sementara itu Neil Sorrell yang pertama kalinya memperkenalkan gamelan di Universitas York mengatakan bahwa musik gamelan ada di York pertama kalinya sejak tahun 1982 . Diakuinya musik gamelan itu unik dan sangat spesial, dan mudah dipelajari.

Selain itu dalam gamelan semua pemain mempunyai kedudukan yang sama dan mudah diterima. Musik gamelan mempunyai suara yang sangat menentramkan selain itu gamelan tampak sangat indah.

Ki Matthew Cohen, Staf pengajar di Departemen Drama dan Teater Universitas Royal Holloway London menggelar wayang kulit dengan sutradara John Pawson serta penari Ni Made Pujawati dibantu sinden Esther Danmeri dengan bintang tamu Aloysius Suwardi dari Solo menampilkan wayang dengan mengunakan bahasa Inggris.

Pemain musik skotlandia yang disebut dengan bagpipes, memberikan warna bagi pengelaran wayang kulit semalam suntuk dengan menampilkan musik Iron Pipes, Menwhile dan Budmalan.

Hazen Metro, yang pernah belajar Schottis Music mengakui bahwa ia perlu melakukan waktu selama empat bulan untuk bisa menyatukan musik gamelan dan musik skotlandia.

"Saya belum pernah belajar gamelan sebelumnya," ujar Hazen Metro dan mengakui ia membutuhkan waktu selama empat bulan untuk bisa memadukan seni musik tradisional gamelan dengan musik asal Skotlandia.

Ki Matthew Cohen mendalang dengan berbagai bahasa dan logat, mendalami budaya Indonesia terutama wayang sejak pertengahan tahun 80-an. Ketika dia menjadi mahasiswa Harvard University program undergraduate dengan konsentrasi jurusan kebudayaan Asia.

Dalam mendalang, Ki Matthew sangat luwes dalam menyampaikan cerita dan bahkan cengkokannya sangat mirip meskipun ia mengunakan bahasa Inggris dengan dialek bahasa Jawa bahkan ia juga menampilkan musik dari Dr Who yang cukup populer dan bahkan sinden Hester.

Hal ini membuat Marumi (70) wanita asal Semarang yang lama menetap di Inggris merasa terobati rasa rindunya akan musik gamelan dan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. "Saya teringat dengan kakak saya yang menjadi dalang," ujarnya Marumi yang senang menikmati pertunjukkan gamelan.

Pagelaran wayang kulit menjadi acara gamelan gathering itu menjadi ajang bagi para pemain gamelan yang tersebar di Inggris saling berbagi informasi dan bersama sama bermain gamelan yang pernah belajar di York seperti Dr Aris Daryono yang meraih Phd dalam composing gamelan and non gamelan.

Musik gamelan itu menurut Aris Daryono setara dengan alat musik kontemporer lainnya tanpa memandang gamelan itu eksotis, melainkan salah satu alat untuk mengekspresikan diri. Seperti malam ini pertunjukan wayang yang juga diiringi dengan beragam musik lainnya seperti musik asal skotlandia maupun alat musik gesek lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement