Ahad 04 Mar 2012 19:28 WIB

Academy Award dari Lensa Ras: Oscar Dicuri dari Viola Davis?

Viola Davis (kiri bergaun hijau) memberi selamat dan pelukan kepada Octavia Spencer (kanan-bergaun putih) yang meraih penghargaan pemeran pembantu wanita terbaik dalam Academy Award ke-84
Foto: Los Angeles Times
Viola Davis (kiri bergaun hijau) memberi selamat dan pelukan kepada Octavia Spencer (kanan-bergaun putih) yang meraih penghargaan pemeran pembantu wanita terbaik dalam Academy Award ke-84

REPUBLIKA.CO.ID, Edisi ke-84 Academy Award dengan banyak kejutan dan hiburan telah berlalu. Salah satu kejutan terbesar ialah Oscar lagi-lagi menobatkan Meryl Streep, untuk kali ketiga, sebagai aktris terbaik, kali ini  atas peran Margaret Thatcher yang ia lakoni dalam "The Iron Lady". Streep sendiri tak menyembunyikan keterkejutannya, "Saya memiliki perasaaan bahwa saya bisa mendengar separuh Amerika akan berkata, 'Oh, yang benar saja, mengapa dia lagi?'...Tapi terserah!"

Kejutannya bukan karena akting Streep tak layak mendapat penghargaan yang menjadi lambang industri perfilman AS. Namun karena banyak orang beharap Viola Davis-lah yang akan membawa pulang patung emas atas performanya dalam "The Help". Ajang Oscar tahun ini dianggap pencurian atas piala yang seharusnya menjadi milik Davis

Film ini berdasar novel laris karangan Kathryn Stockett, bertutur tentang para pembantu kulit hitam dan majikan kulit putih mereka di Jackson, Mississippi pada awal 1960-an, saat warga kulit hitam masih dianggap warga kelas dua dan diteror ole Ku Klux Klan. Akting Davis sebagai pembantu yang mencoba bertahan menjadi manusia sederajat, bisa dibilang memesona dan di atas rata-rata.

Ia mendapat pengakuan di Screen Actors Guild (SAG) dan ditahbiskan sebagai aktris terbaik. Namun dalam perhelatan pemberian Piala Oscar, ia 'dilecehkan' oleh lembaga terhormat tapi juga aneh, yakni Academy of Motion Picture Art and Science.

Terhormat tapi juga membuat bekrenyit karena beberapa hari setelah para juri di balik Academy Award diungkap ke publik, komposisinya begitu didominasi kulit putih (94 %) dan laki-laki, (77 %) serta tua atau memiliki usia paruh baya (62%). Pusat Riset Studi Chicano UCLA yang menyoroti kompisisi tersebut menyatakan, tak mengherankan bila pemenang Oscar mencerminkan institusi dan para jurinya.

Dalam laporan singkat, Pusat Riset menulis, "Bukan Sebuah Terobosan: Piala Oscar dan Para Actor Berwarna, 2002-2012,". Laporan itu sekaligus menepis anggapan bahwa 2002 ialah tahun besar untuk Afrika-Amerika di Academy Award dengan pintu terbuka ke Hollywood bagi kaum minoritas.

Kalau anda ingat, pada 2002, Halle Berry dan Denzel Washington memenangkan penghargaan tertinggi sebagai aktor dan aktris terbaik. Sidney Poitier di tahun itu juga diberi kehormatan menerima penghargaan prestasi seumur hidup, sebuah simbol tinggi yang belum pernah dijumpai sebelumnya di Hollywood.

Namun, itu hanya terjadi pada 2002. Sesudahnya?, Ada baiknya mencermati fakta yang ditulis oleh  Russell K. Robinson, Su Li, Angela Makabali, dan Kaitlyn Murphy dari Chief Justice Earl Warren Institute  dan Kebijakan Hukum dan Sosial, Fakultas Hukum UC Berkeley. Semua aktris pemeran utama terbaik sejak 2002 selalu kulit putih lagi. Lebih mendetail lagi, tak ada satu pun kategori akting dalam sepuluh tahun terakhir yang memilki nominator dari ras Latin, Asia Amerika atau Indian.

Pemenang dan nominator Oscar kian sedikit setiap tahun ketimbang nominasi yang diterima oleh sesama kolega mereka yang kulit putih. Para pemenang dan aktor kulit berwarna cenderung berkreasi di layar kaca televisi ketimbang rekan kulit putih mereka, yang dianggap memiliki status lebih rendah. Juga, para pemenang dan nominator kulit berwarna cenderung tidak dinominasikan untuk ajang berikut ketimbang mereka yang dari kulit putih.

Meski ada juga sedikit kabar baik. Dari 1990 hingga 2000, sekitar 9 persen dari nominasi Oscar di kategori bergengsi mulai diisi dengan wajah aktor non-Kaukasia. Paper itu menyimpulkan dari 2002 hingga 2012 ada 20 persen nominator yang berlatar non-Kaukasia, itu berarti ada peningkatan nyata.

Kondisi itu bukan tidak mendapat perhatian dari pelaku industri non-Kaukasian. Salah satu yang terganggu dengan cerminan industri perfilman AS ialah Denzel Washington, yang pernah berkata, "Jika negara ini 12 persen adalah kulit hitam, jadikan 12 persen academy berasal kulit hitam. Jika bangsa ini memiliki 15 persen Hispanik, buat academy beranggotakan 15 persen hispanik.

Suara sekeras itu tak lantas mendapat tanggapan seimbang. Belum lama ini, Gubernur Academy, Frank Pierson, penulis 'Dog Day Afternon" salah satu film paling progresif pada 1970-an, berkomentar, "Saya tak melihat ada alasan mengapa academy harus mewakili seluruh populasi Amerika. Itu adalah tugas People's Choice Award. Kami mewakili pembuat film profesional dan jika golongan itu tidak merefleksikan populasi secara umum, biarkan saja."

Salah satu anggota dewan gubernur Academy, William Goldsteinm, yang telah bergabung dengan Academy sejak 1977, membela Pierson sebagai sesama juri. Ia juga meminta pembaca tidak lantas menganggap komentarnya sebagai bukti bahwa ada sentimen ras seperti yang diulas media. 

"Anggapan bahwa anggota juri Academy memiliki agenda untuk mengabaikan keanggotaan minoritas sungguh menghina, begitu pula gembar-gembor media yang tertarik untuk memicu kontroversi." tudingnya. "Anggota Academy bertanggung jawab secara serius, dan setiap dari mereka, yang saya kenal, ialah sosok yang tulus dan fokus menjaga serta mempromosikan kualitas seni pembuatan film."

"Saya tidak mendukung pandangan egaliter dalam seni yang menyatakan bahwan semua memiliki bakat yang sama dan bahwa tidak ada seni yang 'lebih baik' ketimbang yang lain. Politik sopan santun tak memiliki tempat dalam seni. Simpan itu untuk memperbaikan ketidakadilan sosial. Demografi dalam juri Academy tak ada kaitan dengan ketidakadilan sosial."

Pendapat itu jelas tak mengubah banyak pandangan skeptis sejumlah pengamat film dan juga aktor kulit hitam. Seorang aktor komedi kulit hitam AS, Chris Rock mengingatkan, "Jika anda pria kulit hitam, maka yang mungkin anda mainkan ialah Keledai atau Zebra."

Sasha Stone, pegamat dari Awards Daily bersuara lebih keras lagi. "Benar, ada banyak anggukan setuju terhadap aktris kulit hitam, tapi pemeran utama? Nanti dulu. Pemeran utama itu hal berbeda, ini soal ratu pesta. Maka mereka adalah yang berbau Sandra Bullock, Nicole Kidman, Kate Winslet" ujarnya. "Mereka ialah aktris yang mendapat kesempatan lewat banyak tawaran menjadi pemeran utama dengan berbagai karakter. Namun Viola Davis? Itu tak akan terjadi."

Perubahan akan datang, tapi butuh waktu seperti Davis. "Jangan dengarkan mereka yang berkata bahwa ini bukan persoalan rasis. Ini selalu tentang ras, dalam menit pertama setiap aktris melakoni peran mereka yang diteken di kontrak. Tentu saja ada yang harus memainkan karakter tak penting, yang memungkinkan wanita kulit hitam masuk ke bagian film yang bisa diterima masyarakat Amerika. Viola Davis masih menjadi pemenang. Ia tak memiliki Oscar tapi ia memiliki persyaratan dan harga yang lebih dari layak dalam urusan ini."

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement