Senin 06 Sep 2010 18:41 WIB

Venice Film Festival Berikan Penghormatan pada Sutradara Cina

Rep: Esthi Maharani / Red: Endro Yuwanto
John Woo
Foto: brightlightsfilm.com
John Woo

REPUBLIKA.CO.ID, VENICE--Festival Film Venice memberikan penghargaan kepada sutradara Cina, John Woo pada Jumat (3/9). Ia merupakan salah satu sutradara Asia yang menikmati keberhasilan box office di Hollywood.

Lelaki berusia 64 tahun ini meraih prestasi seumur hidup Golden Lion di festival film tertua di dunia tersebut. Saat ditanya mengenai penghargaan yang diterimanya, Woo menjawab reaksi pertamanya adalah terkejut. Reaksi berikutnya, ''Saya pikir mereka sedang bercanda,'' katanya.

Penghargaan itu diterimanya tepat di hari saat Woo akan memamerkan film terbarunya 'Reign of Assassins'. Film ini dibantu oleh Su Pin Chao sebagai co-sutradara dan juga produser.

Woo terkenal karena urutan koreografi aksinya pada kisaran 1970-an dan 1980-an di Hong Kong. Pada 1989 ia merilis 'The Killer', yang menarik perhatian pembuat film Amerika Serikat (AS). Film inilah yang mengantarkan ia ke dunia Hollywood.

Woo pindah ke sana pada 1993. Film tersebut mulai diadaptasi dan di disutradarai Jean-Claude Van Damme di 'Hard Target' pada tahun yang sama. Tiga tahun kemudian ia membuat 'Broken Arrow' yang dibintangi John Travolta. Ia kembali bekerja sama dengan aktor tersebut pada 1997 untuk pembuatan film 'Face/Off'.

Pada 2000, Woo mengarahkan Tom Cruise dalam 'Mission: Impossible II'. Film ini merupakan film berpenghasilan terbesar di dunia pada tahun itu. Namun, dua proyek film berikutnya mengalami kegagalan dan tidak bisa menyamai kesuksesan film sebelumnya.

Setelah itu, ia kembali ke Cina untuk menjadi sutradara di sana. "Karena saya sudah bekerja di Hollywood selama lebih dari 16 tahun dan banyak belajar... Saya pikir itu adalah tentang waktu untuk membawa apa yang saya pelajari di Hollywood ke Asia," kata Woo wartawan di Venesia.

Woo mengatakan bahwa di sisi lain, ia telah menemukan bahwa Asia memiliki begitu banyak cerita baik yang berasal dari dari budaya atau imajinasi. Menurutnya, selama bekerja di luar negeri, ia menemukan bahwa hanya sedikit orang yang tahu tentang sejarah dan budaya Asia. “Beberapa orang hanya akrab dengan kami dari film kung fu,” katanya.

"Itu sebabnya saya membuat keputusan untuk membuat film seperti 'Red Cliff' dan menghasilkan film seperti “Reign of Assassins” tambahnya. Hanya saja, ini bukan berarti Woo sudah menyerah pada Hollywood. “Saya masih punya beberapa proyek di Hollywood dan saya ingin bekerja baik di Cina dan Amerika Serikat."

Red Cliff adalah film epik yang dibagi menjadi dua periode. Film ini dianggap sebagai film paling mahal yang pernah didanai film Asia. Hal ini juga memecahkan rekor box office di kawasan Asia.

sumber : ap
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement