JAKARTA -- Seorang perempuan bernama Dina Bawden mencuri perhatian setelah berhasil finish strong di kategori 10 kilometer (10K) di Jakarta Running Festival 2026 saat usia kehamilannya memasuki enam bulan. Dina dikenal sebagai personal trainer dan atlet Hyrox. Lantas, secara umum amankah ibu hamil mengikuti race?
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr I Gusti Ayu Sri Darmayani, mengatakan pada dasarnya ibu hamil masih dapat melakukan aktivitas lari selama kondisi kehamilan sehat, tidak terdapat komplikasi, dan aktivitas tersebut sesuai dengan kemampuan tubuh. "Selama kondisi kehamilan sehat, tidak terdapat komplikasi, dan ibu sudah terbiasa berlari sebelumnya, aktivitas tersebut umumnya masih dapat dilanjutkan dengan penyesuaian intensitas sesuai kondisi dan kemampuan tubuh," kata dr I Gusti Ayu saat dihubungi Republika, Rabu (28/10/2026).
Akan tetapi pada kondisi tertentu, seperti preeklamsia, perdarahan selama kehamilan, ketuban pecah, atau adanya risiko persalinan prematur, aktivitas olahraga perlu dibatasi atau dihentikan sesuai hasil evaluasi dokter. Perubahan fisik yang terjadi seiring bertambahnya usia kehamilan juga dapat menjadi alasan bagi ibu untuk menyesuaikan aktivitasnya.
"Oleh karena itu, keputusan untuk tetap berlari, mengurangi intensitas, atau menghentikan aktivitas tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu hamil," kata dia.
Bagi ibu hamil yang sehat, dr I Gusti Ayu tetap menyarankan untuk memperhatikan beberapa hal sebelum lari dan bahkan mengikuti race. Pertama, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik serta tidak terdapat komplikasi kehamilan, seperti perdarahan, preeklamsia, gangguan jantung atau paru tertentu, maupun risiko persalinan prematur.
Kedua, perhatikan intensitas olahraga. Salah satu cara sederhana untuk mengukurnya adalah dengan talk test, yaitu memastikan ibu masih mampu berbicara dalam kalimat lengkap saat berlari. Jika napas sudah terlalu terengah-engah hingga sulit berbicara, intensitas olahraga kemungkinan terlalu tinggi dan perlu dikurangi.
"Ketiga, pastikan kebutuhan cairan dan energi tercukupi. Ibu hamil lebih rentan mengalami gangguan akibat panas, terutama ketika berolahraga di lingkungan dengan suhu tinggi dan kelembapan tinggi seperti Jakarta. Oleh karena itu, penting untuk menjaga hidrasi, menghindari kepanasan, serta memastikan asupan nutrisi yang cukup sebelum dan setelah berolahraga," ujar dr I Gusti Ayu.