REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling sering terjadi pada perempuan dan menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker di Indonesia. Hingga kini, masih banyak yang percaya bahwa penggunaan bra terlalu ketat, terutama dalam waktu lama, dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Menanggapi hal ini, dokter spesialis kanker di MOC Cancer Care, dr Seema Jagiasi mengatakan bra atau pakaian ketat tidak dapat menghambat aliran getah bening hingga menyebabkan penumpukan racun di jaringan payudara. Hingga saat ini pun tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa bra ketat dapat menyebabkan kanker payudara.
"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengenakan bra yang ketat menyebabkan kanker payudara. Sistem limfatik bukanlah pipa pembuangan yang dapat tersumbat hanya karena bra terlalu ketat," kata Seema dilansir laman Hindustan Times, beberapa waktu lalu.
American Cancer Society juga menyatakan tidak ada bukti ilmiah maupun klinis bahwa mengenakan bra dapat mengubah risiko kanker payudara. Hal tersebut termasuk hasil penelitian pada 2014 yang melibatkan lebih dari 1.500 perempuan.
Lantas apa sebenarnya yang memengaruhi risiko kanker payudara? Menurut dr Seema, ada beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan risiko kanker payudara. Beberapa di antaranya adalah bertambahnya usia, riwayat kanker dalam kelarga, perubahan gen yang diwariskan seperti BRCA1 dan BRCA2, faktor reproduksi dan hormonal, kelebihan berat badan, konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, serta paparan radiasi tertentu.
National Cancer Institute menyebut bertambahnya usia sebagai faktor risiko paling penting. "Jadi kekhawatiran mengenai bra sebaiknya tidak mengalihkan perhatian dari faktor risiko yang telah diketahui dan langkah-langkah untuk menjaga kesehatan payudara," kata dr Seema.
Meski tidak terbukti meningkatkan risiko kanker payudara, penggunaan bra yang terlalu ketat tetap tidak direkomendasikan. Dia mengatakan, bra yang terlalu ketat dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, bekas tekanan, iritasi kulit, lecet, hingga nyeri. Keluhan tersebut terutama dapat terjadi pada perempuan dengan payudara berukuran besar atau kulit sensitif.