REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktor Joseph Gordon-Levitt memperingatkan, pengembangan kecerdasan buatan (Al) bisa membajak keintiman manusia. Aktor yang juga menjabat advokat global PBB untuk tata kelola digital yang berpusat pada manusia ini mengatakan pengembangan Al bisa memusnahkan umat manusia.
Selain itu, menurut dia, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak teknologi tersebut terhadap kemunduran demokrasi, menurunnya empati antarmanusia, serta potensi dominasi perusahaan teknologi terhadap perekonomian. "Saya tidak hanya takut Al bisa memusnahkan seluruh umat manusia, yang lebih mengkhawatirkan bagi saya adalah potensi Al memicu kemunduran demokrasi dan memudarnya empati antarmanusia," kata Gordon-Levitt dilansir laman Variety, pada akhir pekan lalu.
Karenanya, aktor yang dikenal lewat film 500 Days of Summer itu menilai masyarakat perlu kritis pada pihak-pihak yang mengembangkan Al dan tujuan di balik pengembangan tenologi itu. la pun mengecam perusahaan Al yang berambisi mengembangkan Al untuk menguasai perekonomian dunia.
"Itu akan menjadi bentuk totalitarianisme, dan itu akan sangat buruk. Di saat yang sama, model-model Al dilatih untuk membajak keintiman, menjalin pertemanan dengan Anda, dan membuat Anda jatuh cinta padanya. Kita tidak seharusnya takut pada Al. Kita harus waspada terhadap orang-orang yang membangun Al tersebut," kata dia.
Gordon-Levitt ditunjuk untuk menduduki jabatan baru di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Maret 2026. PBB menjelaskan jabatan tersebut dibentuk untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai bagaimana teknologi digital memengaruhi kehidupan sehari-hari, hak-hak, dan peluang manusia.
Aktor sekaligus sutradara ini telah lama vokal mengenai isu Al. Pada Januari, ia bergabung dengan lebih dari 700 seniman, termasuk Scarlett Johansson dan Cate Blanchett, untuk mendukung kampanye anti-Al yang mengkritik perusahaan teknologi karena mengeksploitasi karya berhak cipta tanpa izin.