Senin 12 Oct 2026 05:16 WIB

Mengapa Orang Gampang Emosi Pas Cuaca Panas?

Rasa tak nyaman akibat suhu panas bisa jadi beban bagi tubuh, baik fisik atau psikis.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Warga beraktivitas di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (29/10/2024). Menurut psikolog, rasa tidak nyaman akibat suhu panas dapat menjadi beban bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga beraktivitas di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (29/10/2024). Menurut psikolog, rasa tidak nyaman akibat suhu panas dapat menjadi beban bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering masih terjadi sejumlah wilayah Indonesia pada awal Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut terjadi di tengah pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD).

Kondisi atmosfer yang relatif kering tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan memengaruhi kondisi emosional. Psikolog dari UMM, Alifah Nabilah Masturah, mengatakan rasa tidak nyaman akibat suhu panas dapat menjadi beban bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga

Dalam psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan teori beban stimulus, ketika tubuh menerima rangsangan lingkungan yang melebihi kapasitas normal. "Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres," kata Alifah dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (12/10/2026).

photo
Tips hadapi cuaca panas tak biasa. - (Republika)

Menurut Alifah sapaan akrabnya, peningkatan stres akibat kondisi lingkungan yang tidak nyaman dapat memengaruhi respons emosional. Suhu panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi sehingga rasa lelah dan tidak nyaman meningkat. Kondisi tersebut juga dapat membuat proses berpikir tidak berjalan secara optimal.

Akibatnya, seseorang dapat menjadi lebih sensitif dalam menangkap perkataan maupun tindakan orang lain. Hal-hal yang sebenarnya bersifat netral lebih mudah dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif.

"Hal-hal yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, 'kok nyolot, atau bercanda tapi kok kayaknya kasar'," kata Alifah.

Selain suhu lingkungan, kondisi tubuh turut menentukan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik sekaligus memengaruhi keadaan psikologis. Karena itu, menjaga kondisi tubuh menjadi bagian penting untuk mengantisipasi perubahan suasana hati saat cuaca panas.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan ialah kualitas tidur. la menegaskan bahwa tidur yang baik tidak hanya diukur dari durasinya, tetapi juga dari seberapa optimal tubuh dan otak mendapatkan waktu untuk beristirahat. "Tidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi