REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan seorang seniman muda di industri hiburan Tanah Air, sering kali mencakup berbagai cabang seni yang saling berkelindan. El Putra Sarira, nama yang kian melambung setelah membintangi film layar lebar Ada Apa dengan Cinta, kini mengambil langkah besar dalam dunia tarik suara.
Transisi ini bukan sekadar coba-coba, melainkan bentuk manifestasi kecintaannya yang mendalam terhadap dunia musik sejak usia dini. Di tengah kesibukannya merampungkan berbagai proyek seni peran mendatang, El resmi meluncurkan single debut perdananya yang diberi judul "Memoria". Lagu ini menandai lembaran baru dalam kariernya sebagai musisi solo, sekaligus pembuktian bahwa hasrat masa kecilnya untuk bernyanyi tidak pernah padam.
Proses kreatif di balik penciptaan "Memoria" menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus menantang bagi El. Berkolaborasi dengan jajaran musisi dan komposer papan atas seperti Petra Sihombing, Kamga, dan Iqbal Siregar memberikan warna tersendiri dalam penggarapan karyanya.
El mengakui bahwa momen workshop perdana tersebut sempat membuatnya merasa gugup, mengingat ia harus bekerja berdampingan dengan para profesional berpengalaman. Kendati demikian, ketegangan itu segera mencair berkat suasana kolaboratif yang hangat dan terbuka. Pengalaman ini membuka wawasan barunya mengenai bagaimana sebuah karya musik dapat lahir dari kejujuran pikiran dan hati. Seperti yang diungkapkannya,
View this post on Instagram
"Yang saya dapatkan juga di kali pertama workshop ini, banyak hal yang saya pelajari dari mereka, bagaimana mereka menterpretasikan sebuah cerita atau memikirkan sebuah hal itu dari perspektif yang berbeda, dan kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, dan akhirnya kita berdiskusi bareng, bercerita, dan ternyata dari cerita-cerita itu bisa terjadi suatu karya yang benar-benar jujur dari hati dan jujur dari pikiran kita sendiri," ujarnya saat media gathering di Jakarta pada Jumat (9/10/2026).
Dari segi teknis, proses pembuatan lagu ini berjalan secara organik dan spontan. Sesi workshop yang berlangsung selama satu hari itu bermula dari eksplorasi instrumen dan alunan nada sebelum akhirnya merambah pada penyusunan lirik. Walau kerangka dasar lagu berhasil dirumuskan dalam waktu singkat sekitar dua jam, proses pengambilan keputusan akhir justru memakan waktu yang lebih panjang.
Berbagai penyesuaian dilakukan, termasuk perubahan pada bagian lirik dan ref hingga melahirkan versi final yang kini dapat dinikmati pendengar. "Jadi memang prosesnya, proses pembuatan lagunya pada saat itu memang sangat cepat, tapi untuk making decision di akhirnya itu lumayan panjang sekali itu prosesnya," kata El.