Kamis 08 Oct 2026 18:22 WIB

Juri BIFF Buka Suara Soal Kontroversi Film The Assassin(s)

Film The Assassin(s) mengangkat peristiwa penembakan Presiden Korsel kala itu.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Salah satu adegan di film The Assassin(s). Sutradara sekaligus ketua juri seksi kompetisi Festival Film Internasional Busan (BIFF) ke-31, Zhang Yimou, mendukung kebebasan kreaktif para sineas dalam menggarap film.
Foto: Dok. Hive Media Corp
Salah satu adegan di film The Assassin(s). Sutradara sekaligus ketua juri seksi kompetisi Festival Film Internasional Busan (BIFF) ke-31, Zhang Yimou, mendukung kebebasan kreaktif para sineas dalam menggarap film.

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara sekaligus ketua juri seksi kompetisi Festival Film Internasional Busan (BIFF) ke-31, Zhang Yimou, mendukung kebebasan kreaktif para sineas dalam menggarap film. Hal itu disampaikan sebagai tanggapan atas kontroversi yang melanda film Korea Selatan The Assassin(s).

Baca Juga

Zhang yang dikenal lewat film-film seperti Red Sorghum (1988), Raise the Red Lantern (1991) dan Not One Less (1999), menegaskan bahwa karya sinema tidak semestinya dibatasi secara ketat oleh sejarah. Bahkan menurutnya, kebenaran sejarah sendiri dapat menjadi bahan perdebatan.

"Karya kreatif adalah karya kreatif. Kebenaran sejarah itu sendiri pun sering kali bisa menjadi bahan perdebatan. Film berfungsi sebagai media artistik yang menyampaikan kisah masa lalu kepada masyarakat masa kini. Penonton mungkin menafsirkan sebuah film dengan cara berbeda, dan sebagian orang mungkin tidak sependapat dengan pandangan lain, namun keragaman perspektif itulah yang jadi daya tarik sinema," kata sutradara asal China tersebut dilansir laman Korea Times, Kamis (8/10/2026).

Sutradara asal Korea Selatan, July Jung, yang juga menjadi anggota dewan juri kompetisi utama, menyoroti tekanan psikologis yang saat ini dirasakan oleh para pembuat film. la mengatakan pada dasarnya hanya karya fiksi dan bentuk ekspresi artistik.

"Keyakinan saya bahwa sinema merupakan sebuah karya seni tidak pernah goyah. Namun, melihat reaksi keras yang muncul belakangan ini membuat saya merasa cukup terintimidasi sebagai seorang sutradara, meskipun bukan saya yang menyutradarai film tersebut," kata Jung.

Jung tak memungkiri bahwa pembuat film harus bertanggung jawab atas dunia fiksi yang mereka bangun. Namun, tanggung jawab tersebut tidak seharusnya menghilangkan ruang bagi para sineas untuk menyampaikan visi mereka.

"Dari mana pun asal sebuah cerita, pembuat film memikul tanggung jawab penuh atas apa yang mereka ciptakan. Kami membuat film dengan harapan bahwa penonton akan memberikan pujian maupun kritik. Saya berharap para pembuat film dapat terus berkarya dalam lingkungan yang menyambut beragam pendapat," kata dia.

Film The Assassin(s) mengangkat peristiwa penembakan pada 1974 yang menargetkan Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee, Dalam peristiwa tersebut, Park selamat, tetapi istrinya yang ketika itu merupakan ibu negara, Yuk Young-soo, meninggal. Film tersebut kemudian menuai kritik keras dari kelompok politik konservatif dan sejumlah organisasi masyarakat sipil. Mereka menuduh film itu mendistorsi fakta sejarah karena membuka kemungkinan atau teori alternatif mengenai pihak yang berada di balik peristiwa tersebut.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi