Sabtu 24 Oct 2026 13:53 WIB

Film Full AI Pertama di China ‘Gigit Jari’

Warganet China skeptis dengan kehadiran film-film buatan Al di bioskop.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Salah satu adegan di film Sanxingdui: Future Past. Film layar lebar pertama yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (Al) di China ini gagal menarik minat penonton.
Foto: Dok. Bona Film Group
Salah satu adegan di film Sanxingdui: Future Past. Film layar lebar pertama yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (Al) di China ini gagal menarik minat penonton.

JAKARTA -- Film layar lebar pertama yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (Al) di China gagal menarik minat penonton. Film thriller fiksi ilmiah berjudul Sanxingdui: Future Past mulai tayang di bioskop pada Jumat (23/10/2026), tetapi penjualan tiketnya jeblok dan berpotensi membuat studio merugi besar.

Menurut platform penjualan tiket Maoyan, lebih dari 10 ribu jadwal pemutaran film tersebut disiapkan untuk Jumat. Namun, banyaknya jadwal penayangan tak berbanding lurus dengan minat penonton untuk membeli tiket.

Baca Juga

Hingga Kamis (22/10/2026) malam, pendapatan prapenjualan tiket film itu hanya mencapai 65 ribu yuan atau sekitar Rp176 juta. Maoyan bahkan memperkirakan total pendapatan box office film tersebut tidak akan menembus 100 ribu yuan atau sekitar Rp270 juta. Angka itu sangat timpang dibandingkan biaya produksinya yang mencapai lebih dari 10 juta yuan atau sekitar Rp27 miliar.

CEO perusahaan produksi Bona Film Group, Jiang Defu, mengakui penerimaan terhadap film tersebut masih kurang memuaskan. Namun, ia menilai produksi film itu merupakan upaya untuk mendorong batas baru dalam industri perfilman.

"Kami adalah pihak pertama yang mencobanya, pihak pertama yang mendapatkan izin penayangan di bioskop, dan pihak pertama yang diuji oleh penonton. Saya rasa itu sama sekali bukan hal yang mudah," kata Jiang dalam wawancara dengan media industri perfilman China, dilansir laman Japan Today, Sabtu (24/10/2026).

Bona Film Group mengatakan film ini dikerjakan oleh hampir 100 orang selama lebih dari dua tahun, dengan biaya produksi mencapai lebih dari 10 juta yuan. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk meyakinkan sebagian penonton agar bersedia membayar tiket.

Iris Yang, yang menghadiri pemutaran pratinjau gratis film tersebut pada Kamis, mengatakan dirinya tidak akan membayar untuk menonton film itu karena kualitasnya buruk. "Jika hasil kreasi Al bisa menyamai pengalaman menonton di bioskop seperti film 'Avatar', saya rasa saya akan bersedia membayar untuk menontonnya," kata Yang.

Di China, video yang dihasilkan menggunakan Al semakin populer. Di Douyin, platform asal China yang setara dengan TikTok, drama pendek berbasis Al mencatat lebih dari 200 miliar penayangan sepanjang September. Namun, menurut sutradara film independen berbasis Al, Zhang Jun, popularitas tersebut tidak serta-merta membuat penonton bersedia membayar untuk menyaksikan film Al di bioskop. "Penonton terbiasa menonton film pendek Al dengan gratis. Jadi mereka tidak akan secara otomatis bersedia membayar tiket hanya karena sebuah film dibuat menggunakan Al," kata Zhang kepada AFP.

Sejumlah warganet China juga skeptis dengan kehadiran film-film buatan Al di bioskop. Seorang pengguna Weibo mengatakan masyarakat akan ogah mengeluarkan uangnya untuk menonton film buatan Al.

"Jika bisa ditonton secara gratis di platform streaming, film Al mungkin bisa menjadi sesuatu yang legendaris. Namun, kalau harus membayar untuk menontonnya, orang-orang belum akan bisa menerimanya," kata warganet tersebut.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi