Senin 28 Sep 2026 19:05 WIB

Bukan Super Flu, Justru H1N1 yang Lebih Banyak Beredar

Peningkatan aktivitas influenza saat ini merupakan bagian dari pola musiman.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Indira Rezkisari
Warga melakukan penyuntikan vaksin influenza Flubio di Klinik Pratama Dermaga Raya, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K atau superflu di Indonesia selama periode Agustus-Desember 2025 dengan mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak, sehingga masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga melakukan penyuntikan vaksin influenza Flubio di Klinik Pratama Dermaga Raya, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K atau superflu di Indonesia selama periode Agustus-Desember 2025 dengan mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak, sehingga masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluruskan isu mengenai "super flu" yang belakangan muncul di tengah peningkatan kasus influenza. Kemenkes menegaskan istilah tersebut bukan nomenklatur resmi dan virus yang disebut sebagai "super flu" bukan subtipe influenza yang dominan beredar di Indonesia.

 

Baca Juga

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan istilah super flu merupakan istilah awam yang umumnya merujuk pada influenza A H3N2. Namun, berdasarkan hasil surveilans, influenza yang paling banyak beredar di Indonesia saat ini adalah influenza A H1N1 pdm09.

 

"Super flu itu istilah awam, itu untuk influenza A H3N2 dan itu bukan dominan di Indonesia," kata Andi dalam konferensi pers, Senin (28/9/2026).

 

Ia menjelaskan, influenza yang beredar di Indonesia terdiri atas influenza tipe A dan B. Virus influenza merupakan virus RNA yang mudah mengalami mutasi. Meski demikian, sebagian besar penderita influenza dapat pulih tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit.

 

Menurut Andi, peningkatan aktivitas influenza saat ini merupakan bagian dari pola musiman. Berdasarkan pemantauan di Indonesia selama 10 tahun terakhir, kasus influenza cenderung meningkat mulai September hingga akhir tahun.

 

Pada minggu ke-38 2026, positivity rate influenza berdasarkan surveilans influenza-like illness (ILI) tercatat mencapai 56 persen. Namun, Kemenkes menyatakan angka tersebut belum menunjukkan aktivitas influenza pada tingkat tinggi atau luar biasa.

 

"Kalau yang SARI itu tingkat aktivitas influenzanya berada di area low, masih rendah. Kemudian yang untuk ILI, itu tingkat aktivitasnya sedang," ujarnya.

 

Surveilans severe acute respiratory infection (SARI) dilakukan di rumah sakit, sedangkan ILI dilakukan di Puskesmas. Kemenkes menyebut aktivitas SARI pada 2026 masih berada di bawah rata-rata pemantauan selama 10 tahun terakhir.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi