Rabu 23 Sep 2026 09:40 WIB

Studi: Asap Kebakaran Hutan Lebih Beracun Dibandingkan Polusi Udara Lainnya

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Sejumlah pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (12/9/2026). Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat jarak pandang hanya 500 meter pada Sabtu (12/9) pukul 15.24 WIB akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Sejumlah pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (12/9/2026). Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat jarak pandang hanya 500 meter pada Sabtu (12/9) pukul 15.24 WIB akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asap kebakaran hutan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan lebih besar dibandingkan polusi udara lainnya. Kesimpulan itu muncul dari dua studi berskala besar yang dilakukan peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di Jurnal The Lancet pada September 2026.

Studi pertama menemukan, paparan asap kebakaran hutan berkaitan dengan menurunnya peluang bertahan hidup pasien kanker paru-paru. Studi kedua mengungkapkan paparan jangka panjang polusi kebakaran hutan terkait denga npeningkatan risiko rawat inap akibat berbagai penyakit jantung dan paru-paru.

Baca Juga

Kedua studi ini dipimpin oleh peneliti Min Zhang dan penulis senior Yaguang Wei. Menurut Wei, temuan tersebut menunjukkan bahwa dalam menilai dampak polusi udara, bukan hanya jumlah polusi yang penting, tetapi juga sumbernya.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa polusi partikel yang berkaitan dengan kebakaran hutan lebih berbahaya dibandingkan tingkat polusi dari sumber lain. Seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan, kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan harus mempertimbangkan baik jumlah maupun sumber polusi udara," kata Wei dilansir laman US News, Rabu (23/9/2026).

photo
Siswa berjalan di halaman sekolah sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026). Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memberlakukan kebijakan untuk siswa SD dan SMP dengan menunda waktu masuk jam pelajaran menjadi pukul 08.00 WIB, meniadakan sementara kegiatan di luar ruangan, wajib memakai masker, dan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan penurunan kualitas udara. - (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

 

Kedua penelitian berfokus pada PM2.5, yakni partikel polusi udara berdiameter 2,5 mikron atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk kendaraan, aktivitas industri, pertanian, serta kebakaran hutan.

Untuk studi pertama, para peneliti menganalisis data 414.016 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas yang menderita kanker paru-paru. Data tersebut berasal dari basis data SEER-Medicare untuk periode 2006 hingga 2019.

Peneliti kemudian menilai paparan PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan dan PM2.5 dari sumber lain berdasarkan lokasi tempat tinggal pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap kedua jenis PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko kematian setelah diagnosis kanker paru-paru.

Namun ketika dibandingkan pada peningkatan paparan dalam jumlah yang sama, PM2.5 dari kebakaran hutan menunjukkan toksisitas yang lebih besar. Peneliti juga menemukan bahwa semakin banyak hari dengan kondisi berasap dan semakin lama periode paparan asap, semakin buruk hasil kelangsungan hidup pasien.

Secara keseluruhan, asap kebakaran hutan hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total paparan PM2.5 yang dialami pasien dalam penelitian tersebut. Namun para peneliti mencatat, paparan dari kebakaran hutan berkontribusi terhadap sekitar 17 persen kematian yang berkaitan dengan paparan PM2.5.

"Pasien dengan kanker paru-paru sudah rentan secara medis, dan temuan kami menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar," kata peneliti Min Zhang.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi