REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Singkong sering dipandang sebagai bahan pangan lokal yang sederhana dan biasa saja di meja makan harian. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dan kreatif, komoditas yang melimpah ini menyimpan potensi luar biasa untuk menggerakkan roda ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Kesadaran akan pentingnya mengolah potensi bahan pangan daerah inilah yang mendorong Universitas AKPRIND Indonesia bersama Universitas Gunung Kidul menggelar Program Hibah Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di Padukuhan Clapar I, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Langkah ini bertujuan untuk mengubah cara pandang dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi mereka.
Ketimbang hanya menjual singkong dalam bentuk mentah dengan nilai jual yang relatif rendah, sentuhan teknologi tepat guna dihadirkan agar olahan singkong dapat naik kelas menjadi ragam produk pangan yang lebih menarik, berdaya saing, dan bernilai ekonomi tinggi. Program pemberdayaan ini merealisasikan visinya berkat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Ketua PMM Universitas AKPRIND Indonesia, Yuli Purwanto, S.T., M.Eng., mengatakan program tersebut dirancang khusus untuk mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki masyarakat setempat secara efektif. “Program ini kami arahkan agar potensi singkong yang ada di masyarakat tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Dengan dukungan teknologi yang tepat, singkong dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Yuli dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Kamis (13/8/2026).
Pendekatan gaya hidup mandiri dan berkesinambungan menjadi inti dari gerakan ini. Menurut Yuli, memberikan bantuan fisik berupa peralatan teknis saja tidak akan cukup untuk menjamin perubahan jangka panjang. Menurut dia, masyarakat membutuhkan pendampingan yang intensif agar mampu mengoperasikan, merawat, serta memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal dan berkelanjutan.