REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinamika peran dalam keluarga sering kali membentuk kepribadian seseorang hingga mereka tumbuh dewasa. Salah satu fenomena psikologis yang cukup banyak mendapat sorotan adalah kecenderungan anak perempuan tertua untuk memikul seluruh tanggung jawab seorang diri.
Anak sulung perempuan kerap tumbuh menjadi pribadi yang sangat kritis dan perfeksionis terhadap diri sendiri. Meskipun karakter ini bisa saja muncul pada urutan kelahiran mana pun, sifat-sifat tersebut paling sering melekat pada sosok anak perempuan tertua. Fenomena psikologis ini populer dikenal dengan sebutan sindrom anak perempuan tertua (eldest daughter syndrome).
Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh kecenderungan keluarga yang meminta anak perempuan tertua membantu mengurus tanggung jawab orang dewasa sejak dini. Mereka sering diandalkan untuk mengasuh adik-adik hingga menjadi sosok yang mengatur berbagai urusan keluarga. Akibatnya, muncul asumsi bahwa anak perempuan tertua harus menjadi dewasa lebih cepat dibandingkan usianya, yang kemudian membuat mereka merasa sulit untuk meminta bantuan kepada siapa pun.
Satu-satunya hal yang sering menjadi hambatan utama bagi anak perempuan tertua untuk merasakan kebahagiaan sejati adalah rasa tanggung jawab yang berlebihan. Menurut terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Natalie Moore, terdapat kecenderungan yang umum pada anak perempuan tertua untuk merasa bertanggung jawab atas keluarga asal mereka secara berlebihan. Tugas-tugas tersebut mencakup mengasuh adik, membantu peran orang tua, hingga mengemban beban mental untuk menjaga keharmonisan keluarga.
“Ini bisa merambat kepada hubungan lainnya. Merasa bertanggung jawab kepada keluarga mereka di rumah dan bahkan merasa tanggung jawab berlebih di pekerjaan. Mereka harus menjadi orang yang memastikan segala hal terlaksanakan dan setiap orang menyelesaikan pekerjaan mereka tepat waktu,” ujar Moore dikutip dari laman Huffpost pada Kamis (13/8/2026).
Moore mencatat dampak ini juga dipicu oleh ekspektasi sosial yang menaruh beban pengasuhan kepada anak perempuan atau perempuan dewasa. Hal ini menambah bobot beban tanggung jawab yang dirasakan oleh anak perempuan sulung sejak kecil.
“Kita cenderung berekspektasi bahwa anak perempuan dan perempuan dewasa untuk lebih peka dan mengambil peran sebagai pengasuh. Jadi, anak perempuan sulung merasakan beban ganda. Sebagai yang tertua, mereka menjadi yang paling dewasa. Tapi, mereka juga harus memenuhi berbagai harapan tersebut,” kata dia.