REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persoalan sampah makanan di Indonesia mencapai tingkat memprihatinkan. Setiap tahun, sebanyak 23 juta hingga 48 juta ton sampah makanan terbuang sia-sia, dengan sisa makanan mendominasi sekitar 40,4 persen dari total sampah nasional.
Studi Bappenas mencatat, kerugian ekonominya ditaksir mencapai Rp551 triliun per tahun, menjadikan Indonesia salah satu negara pembuang makanan terbesar di dunia. Padahal, benteng ketahanan pangan nasional bisa dimulai dari hal sederhana di meja makan kita sendiri.
Langkah kecil seperti menghabiskan makanan tanpa sisa, menyelamatkan pangan yang masih layak konsumsi, mengolah sampah dapur menjadi kompos, hingga memilih bahan pangan lokal memiliki andil nyata dalam menopang kemandirian pangan bangsa. Hareudang Bandung, komunitas yang bergerak di bidang penyelamatan pangan menjadi salah satu contoh aksi nyata.
Pada April lalu, Hareudang Bandung menggandeng puluhan ibu rumah tangga di Kota Cimahi untuk memasak bersama. Bahan utamanya bukan daging atau ikan pilihan, melainkan 135 kilogram labu siam yang nyaris dibuang petani karena harganya anjlok.
Labu-labu itu berasal dari petani di Cikajang yang terpaksa melepas hasil panennya dengan harga sangat murah, hanya Rp75 ribu untuk 90 kilogram. Melihat kondisi itu, Hareudang Bandung bergerak menyelamatkan labu siam tersebut dan membawanya ke Cimahi untuk dimasak bersama warga.
"Karena rugi, banyak petani yang mikir untuk membuang hasil panennya. Akhirnya kami bersama Pemkot Cimahi menggelar acara masak-masak bersama masyarakat, sekalian edukasi soal food waste. Dan labu yang tadinya calon limbah itu berhasil kami selamatkan menjadi 200 lebih porsi makan," kata Founder sekaligus CEO Hareudang Bandung, Yoga Fauzan Renaldi, saat dihubungi Republika, Jumat (24/7/2026).
Kegiatan itu bukan sekadar aksi berbagi, melainkan juga ajang edukasi memasak tanpa sisa. Yoga mengatakan ibu rumah tangga menjadi kelompok yang paling dekat dengan pengelolaan sampah organik karena setiap hari berhadapan langsung dengan proses mengolah bahan makanan. Namun menurut dia, banyak yang belum menyadari bahwa bagian pangan yang biasa dibuang seperti kulit labu siam, sebenarnya masih bisa dimanfaatkan menjadi makanan.
"Selama edukasi dan masak-masak itu, banyak ibu yang bilang 'oh ternyata kulitnya bisa dipakai ya, oh ternyata dagingnya bisa digituin'. Jadi kami memastikan mereka itu gap knowledge itu diisi dengan hal-hal yang udah kami riset, dan kami implementasi langsung bersama masyarakat," kata Yoga.
Kegiatan di Cimahi itu hanyalah satu dari rangkaian aksi Hareudang Bandung. Sejak dibentuk pada Oktober 2023, komunitas ini juga aktif melakukan food distribution dan food rescue dengan menyalurkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada mereka yang membutuhkan.
Yoga bercerita, aksi food rescue perdana dilakukan pada akhir 2023 bekerja sama dengan Food Bank Bandung. Saat itu, mereka awalnya ingin menyasar sektor perhotelan yang dinilai menjadi salah satu penyumbang sisa makanan terbesar. Namun sebagai komunitas yang baru berdiri, mereka belum memiliki akses untuk bekerja sama langsung dengan hotel-hotel besar.
Sebagai langkah awal, mereka menggandeng SMK jurusan Tata Boga dan Kuliner di Bandung. Laboratorium praktik memasak di sekolah kerap menyisakan bahan baku yang berpotensi menjadi sampah apabila tidak segera diolah.
Melalui kolaborasi itu, sekitar 70 kilogram bahan pangan berlebih berhasil diselamatkan dan kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. "70 kilogram sisa bahan baku itu berpotensi jadi sampah sisa makanan, padahal masih layak konsumsi. Jadi dengan aksi kami, itu bisa kami selamatkan dan dibagikan kepada orang-orang yang masih membutuhkan dan kelaparan," kata Yoga.
Dia mengatakan Hareudang Bandung lahir dari fenomena sosial yang dirasakan langsung oleh Yoga dan Co-founder Ghefira Nur Azizah. Pada Oktober 2023, mereka merasa suhu Bandung sangat panas (hareudang dalam bahasa Sunda) hingga menyentuh 34 derajat Celsius. Setelah ditelaah, ternyata suhu panas itu berkaitan dengan kebakaran TPA Sarimukti di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, akibat gas metana dari tumpukan sampah sisa makanan.
"Kebetulan pas saat itu juga aku dan Ghefira lagi makan di restoran, dan lihat di kiri-kanan ternyata banyak juga masyarakat yang suka nyisain makanan kalau makan. Dari situ kami merasa perlu melakukan sesuatu," kata Yoga.
Setelah hampir tiga tahun berjalan, berbagai aksi Hareudang Bandung menunjukkan dampak signifikan. Dalam laporan 2025, tercatat lebih dari 2.700 individu teredukasi, lebih dari 200 pemuda telah dilatih, 2.012 bibit pangan disebarkan, serta 530 pcs makanan berhasil diselamatkan. Dari sisi lingkungan, aksi-aksi ini turut memitigasi 11,61 ton setara karbondioksida ekuivalen (CO2e).
View this post on Instagram