REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat di berbagai daerah mengeluhkan pemadaman listrik yang cukup sering terjadi belakangan ini. Pemadaman listrik yang terjadi secara berulang dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas harian masyarakat, tetapi juga membawa ancaman fatal yang jarang disadari bagi perangkat elektronik rumah tangga.
Merespons masalah ini, pakar teknik elektro dari Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Machmud Effendy, mengatakan kerusakan perangkat elektronik yang paling parah terjadi bukan pada saat listrik padam. Namun ketika aliran listrik kembali menyala akibat adanya tegangan yang drastis (power surge).
Prof Machmud menjelaskan selama ini masyarakat sering salah memahami akar penyebab rusaknya barang-barang elektronik mereka. Secara teknis, risiko tertinggi dan paling merusak justru muncul saat pasokan listrik pulih, di mana energi listrik masuk ke dalam komponen dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat, sehingga merusak komponen yang dirancang pada jarak tegangan tertentu.
"Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat kembali menyala. Pada saat jaringan listrik mengirimkan, sering terjadi gangguan tegangan pada saat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (6/7/2026).
Lonjakan tersebut dapat berdampak pada berbagai perangkat rumah tangga seperti televisi, komputer, charger, router wi-fi, mesin cuci, hingga pendingin ruangan seperti AC. Komponen seperti power supply dan rangkaian elektronik di dalamnya menjadi bagian yang paling rentan terhadap ketidakstabilan arus listrik.