REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Merek produk kebersihan asal Inggris, Dettol, menyampaikan permintaan maaf setelah mendapat gelombang kritik di Cina. Permintaan maaf terkait iklan yang dinilai menyinggung perempuan dan memperkuat stereotip gender.
Dikutip dari The Independent, Rabu (24/6/2026), iklan berdurasi sekitar lima menit itu dikemas dalam format drama pendek (micro-drama) dan mengangkat kisah hubungan asmara dari sudut pandang seorang pria. Namun alih-alih diterima positif, konten tersebut memicu kemarahan warganet karena dianggap mengobjektifikasi perempuan serta menyinggung isu kesucian atau keperawanan perempuan.
Dalam alur cerita iklan tersebut, seorang pria yang baru putus dari kekasihnya karena mengetahui mereka pernah tinggal bersama, mencari pasangan yang dianggap "bersih" dan "belum terkontaminasi oleh pria lain".
Tokoh pria dalam iklan itu kemudian melontarkan sejumlah pernyataan kontroversial seperti, "Pantas saja kamu begitu berpengalaman, rupanya sudah dilatih oleh orang lain sebelumnya," serta, "Saya boleh memiliki hubungan di masa lalu, tetapi calon istri saya tidak boleh."
Ia juga memuji kekasih barunya dengan mengatakan, "Saya beruntung bertemu perempuan ini. Dia murni dan belum terkontaminasi oleh pria lain. Tidak mudah menemukan perempuan yang begitu polos."
Namun, cerita kemudian berbalik ketika tokoh perempuan menyebut pria tersebut sebagai sosok yang "beracun" dan mengibaratkannya sebagai bakteri yang harus disingkirkan agar dirinya bisa merasa tenang.
Meski dimaksudkan sebagai kritik terhadap pola pikir seksis, iklan tersebut justru memicu kecaman luas dan seruan boikot terhadap Dettol di media sosial Cina. Seorang pengguna platform Weibo menulis, "Iklan yang sangat buruk. Saya sampai kehabisan kata-kata."
Sementara pengguna lain di Xiaohongshu, platform media sosial yang kerap disebut sebagai versi Cina dari TikTok, berkomentar, "Saya berhenti menonton setelah dua menit. Video ini beracun bagi pikiran orang."
Menanggapi kontroversi tersebut, Dettol pada Senin mengeluarkan pernyataan resmi yang mengakui adanya kelalaian dalam proses pembuatan dan peninjauan materi iklan. "Kami bertanggung jawab atas setiap kelalaian dalam pembuatan dan peninjauan konten iklan tersebut. Kami menyadari bahwa iklan ini telah menyinggung banyak orang, terutama perempuan," tulis Dettol dalam pernyataannya.
Perusahaan menjelaskan video tersebut dibuat oleh kreator pihak ketiga dan sejatinya dimaksudkan untuk mengkritik bias gender yang masih terjadi di masyarakat. "Namun kami sangat menyadari bahwa perlindungan yang sesungguhnya juga berarti menjaga martabat setiap individu dan hak mereka untuk diperlakukan secara setara," kata Dettol.
Kontroversi ini kembali memunculkan perdebatan mengenai sensitivitas isu gender dalam kampanye pemasaran serta pentingnya proses evaluasi yang lebih cermat sebelum sebuah iklan dipublikasikan kepada masyarakat luas.