Senin 22 Jun 2026 13:45 WIB

Bayi Prematur Lebih Berisiko Alami Gangguan Ginjal

Bayi prematur umumnya fungsi ginjalnya belum selesai pembentukannya.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro di RS Pondok Indah-Pondok Indah.
Foto: Republika/Indira Rezkisari
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro di RS Pondok Indah-Pondok Indah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayi yang lahir prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ginjal. Alasannya, karena proses pembentukan organ tersebut belum berlangsung secara sempurna saat kelahiran.

"Kita tahu bahwa ginjal itu juga terbentuk ada masanya. Dia terbentuk dari usia delapan minggu sampai 36 minggu kehamilan," kata Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi Rumah Sakit Pondok Indah dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro.

Baca Juga

Henny dalam diskusi kesehatan ginjal di Jakarta, Jumat (19/6/2026), mengatakan kemajuan layanan kesehatan membuat semakin banyak bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah dapat bertahan hidup hingga dewasa. Namun, kondisi tersebut juga menuntut perhatian lebih terhadap kesehatan ginjal mereka dalam jangka panjang.

Dia menjelaskan, pembentukan ginjal berlangsung selama masa kehamilan dan akan selesai mendekati usia kehamilan 36 minggu. Karena itu, bayi yang lahir sebelum usia tersebut berpotensi memiliki perkembangan ginjal yang belum optimal. "Nah, kalau dia prematur berarti fungsi ginjalnya belum selesai pembentukannya," ujarnya.

Ia mengatakan ginjal tersusun atas jutaan nefron yang berfungsi menyaring darah dan membuang zat sisa dari tubuh. Bayi yang lahir prematur berisiko memiliki jumlah nefron yang lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

Kondisi tersebut dapat membuat ginjal bekerja lebih berat sepanjang hidup dan meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi serta penyakit ginjal kronik pada usia yang lebih lanjut.

Selain bayi prematur, Henny mengatakan bayi dengan berat badan lahir rendah juga perlu mendapatkan pemantauan kesehatan yang lebih cermat karena memiliki faktor risiko serupa terhadap gangguan ginjal.

Oleh karena itu, dokter yang juga terhimpun dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut mengimbau orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Terutama jika anak memiliki riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah.

Menurut dia, deteksi dini penting dilakukan karena penyakit ginjal pada anak sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas pada tahap awal.

"Anak-anak dengan faktor risiko perlu dipantau lebih awal agar jika ada gangguan fungsi ginjal dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin," kata Henny. 

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi