REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa metode menghilangkan bulu di badan seperti mencukur (shaving) dan waxing telah menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri. Namun, ahli kesehatan mengingatkan bahwa jika dilakukan terlalu sering, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan kulit, termasuk merusak skin barrier dan mengganggu mikrobioma kulit.
Dokter spesialis kulit, dr Chandani Jain Gupta, menjelaskan bahwa mikrobioma kulit membantu mengatur peradangan, hidrasi, dan iritasi. Folikel rambut juga merupakan bagian penting karena berfungsi sebagai mikro-lingkungan penting yang mendukung keseimbangan mikrobioma kulit.
"Ketika folikel sering terganggu akibat shaving atau waxing, keseimbangan mikrobioma kulit ikut terpengaruh. Dan itu bisa memicu peradangan, infeksi, dan iritasi, dan mengganggu mikrobioma kulit itu," kata dr Gupta dikutip dari Hindustan Time, Senin (8/6/2026).
Menurut Gupta, proses mencukur dapat menimbulkan luka mikro yang merusak skin barrier sehingga memudahkan bakteri patogen untuk berkembang biak. Sementara itu, waxing dapat memicu peradangan karena mencabut rambut dari akar.
Kondisi ini membuat kulit lebih rentan terhadap, iritasi, kulit kering, peradangan, dan peningkatan sensitivitas. Terutama jika dilakukan berulang tanpa jeda pemulihan yang cukup.
Selain itu, waxing tidak hanya mengangkat rambut tetapi juga dapat mengangkat sebagian lapisan kulit sehingga pori-pori menjadi lebih terbuka dan rentan terhadap bakteri. "Hal ini kemudian dapat memicu peradangan dan munculnya jerawat setelah waxing," kata dia.
Dia mengatakan infeksi kulit bukan efek samping yang umum dari waxing, namun tetap dapat terjadi jika kebersihan tidak dijaga dengan baik. Hal ini misalnya terjadi jika penggunaan wax tidak diganti atau alat tidak dibersihkan dengan benar antar klien, sehingga bakteri dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
"Gejala infeksi kulit yang dirasakan dapat berupa demam, kemerahan, pembengkakan, gatal, rasa hangat, dan nyeri," kata Gupta.