Senin 11 May 2026 13:44 WIB

Benarkah Bayi yang Diberi ASI Eksklusif tak Perlu Imunisasi?

Bayi baru lahir hingga usia 6 bulan disarankan mendapat beberapa imunisasi penting.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi wanita menyusui bayi. Dokter membantah bayi yang sudah mengonsumsi air susu ibu (ASI) tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi atau vaksinasi.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Ilustrasi wanita menyusui bayi. Dokter membantah bayi yang sudah mengonsumsi air susu ibu (ASI) tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi atau vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter membantah bayi yang sudah mengonsumsi air susu ibu (ASI) tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi atau vaksinasi. Dokter spesialis anak sekaligus Anggota UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr dr Rodman Tarigan, mengatakan ASI memang nutrisi terbaik untuk bayi terutama hingga usia 6 bulan karena mengandung lemak, protein, karbohidrat, serta antibodi yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh anak serta menurunkan risiko alergi.

Namun dr Rodman menegaskan, perlindungan kesehatan yang diberikan ASI bersifat umum, bukan spesifik terhadap penyakit tertentu. Karena itu, meskipun anak diberikan ASI eksklusif tetap wajib imunisasi.

Baca Juga

"Jadi targetnya tentu berbeda, target ASI itu memberi perlindungan kesehatan bagi anak secara umum. Tapi kalau imunisasi targetnya adalah mencegah penyakit tersebut. Jadi kalau ada yang menganggap tidak perlu vaksin kalau sudah diberi ASI, itu tidak benar," kata dr Rodman dalam diskusi virtual yang digelar IDAI, beberapa waktu lalu.

photo
ASI ekslusif (ilustrasi). - (www.freepik.com)

 

la menjelaskan bayi baru lahir hingga usia 6 bulan disarankan untuk mendapat beberapa imunisasi penting seperti vaksin hepatitis, polio, serta vaksin kombinasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT). Vaksin tersebut penting karena sejak lahir bayi berpotensi terpapar berbagai antigen dari lingkungan luar tubuh.

"Bayi itu bisa terpapar berbagai antigen dari lingkungan, misalnya saat dicium orang tua, nenek, atau saat digendong. Bisa saja orang yang menggendong sedang dalam masa inkubasi penyakit tanpa disadari. Itulah pentingnya memberikan vaksin," ujar dr Rodman.

Dia juga membantah anggapan memberikan lebih dari satu vaksin sekaligus dapat meningkatkan risiko efek samping berbahaya dan membebani sistem imun anak. la menjelaskan secara ilmiah, pemberian beberapa vaksin dalam satu waktu (multiple injection) tidak memberikan dampak negatif terhadap sistem kekebalan tubuh anak.

"Bukti ilmiah menunjukkan multiple injection, bahkan ada yang diberikan sampai 2 atau tiga suntikan, tidak memberikan dampak negatif pada sistem imun anak," ujar dr Rodman.

la juga mengungkapkan dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak, terutama usia sekolah, justru terpapar jauh lebih banyak antigen dari lingkungan dibandingkan dari vaksin. Aktivitas di luar ruangan membuat mereka menghirup dan bersentuhan dengan berbagai kuman yang menempel di kulit maupun lingkungan sekitar.

"Kemudian kalau kita perhatikan anak-anak sekolah, dia banyak beraktivitas di luar, tentu akan terpapar lebih banyak kuman yang dihirup atau yang nempel di kulit. Artinya anak sekolah lebih banyak terpapar antigen dibandingkan dengan vaksin, itu faktanya," kata dr Rodman.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement