REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup. Menjelang akhir Ramadhan 1447 Hijriah, pakar gizi dari IPB University, Prof Hardinsyah, mengingatkan masyarakat untuk menjadikan pengalaman berpuasa sebagai titik awal membangun pola makan sehat yang berkelanjutan.
"Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi," kata Prof Hardinsyah dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (16/3/2026).
la menjelaskan, pengaturan pola makan pascapuasa dapat diterapkan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting, yakni membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan. Pola ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.
Menurut Prof Hardinsyah, konsistensi menjadi tantangan utama dalam mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadan. Perubahan pola pikir dan tekad kuat sangat dibutuhkan, terutama ketika kembali pada rutinitas harian.
"Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala," kata dia.
Prof Hardinsyah menyarankan transisi pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol. Selanjutnya, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.