Kamis 08 Jan 2026 09:52 WIB

Benarkah Pelihara Kucing Bisa Bikin Mandul?

Sumber utama infeksi toksoplasmosis berasal dari makanan, bukan dari kucing.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Wanita memelihara kucing (ilustrasi). Menurut dokter, memelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan secara langsung.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Wanita memelihara kucing (ilustrasi). Menurut dokter, memelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan secara langsung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik kegemasan kucing, banyak yang percaya bahwa memelihara kucing bisa menyebabkan kemandulan. Apakah hal itu benar?

Dokter hewan dan biomedis dari IPB University, Dr drh Leni Maylin, menepis anggapan tersebut. Menurutnya, memelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan secara langsung.

Baca Juga

"Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri," kata Dr Leni dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (8/1/2026).

la mengatakan toksoplasma gondii merupakan parasit protozoa berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Menurut dia, tidak semua kucing terinfeksi parasit ini. Bahkan, berdasarkan sejumlah penelitian, jumlah kucing yang terinfeksi tergolong sangat kecil.

"Tidak semua kucing bisa terinfeksi toksoplasma gondii. Banyak penelitian menunjukkan prevalensinya sangat rendah, apalagi pada kucing yang dipelihara di dalam rumah," kata dia.

Menurut Dr Leni, kucing dapat terinfeksi toksoplasma terutama jika memakan daging mentah atau hasil buruan seperti tikus yang telah mengandung kista parasit. Kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan parasit dalam bentuk ookista melalui feses. Namun, ookista tersebut tidak langsung bersifat infektif.

"Ookista yang keluar dari kotoran kucing itu awalnya belum infektif. Dia membutuhkan waktu sekitar satu sampai lima hari untuk menjadi infektif. Karena itu, membersihkan kotoran kucing setiap hari sangat penting," ujar Dr Leni.

photo
Bermain dengan kucing. - (Republika/Thoudy Badai)

Ia menyebut, kucing yang sudah pernah terinfeksi umumnya akan membentuk antibodi sehingga kecil kemungkinan kembali mengeluarkan ookista infektif di kemudian hari. Untuk memastikan infeksi secara medis, pemeriksaan dapat dilakukan melalui feses kucing, meskipun hasilnya tidak selalu akurat. Pemeriksaan lanjutan seperti PCR atau uji imunologi juga dapat dilakukan di fasilitas kesehatan hewan.

Terkait penularan ke manusia, Dr Leni menegaskan bahwa sumber utama infeksi toksoplasmosis justru berasal dari makanan, bukan dari kucing. "Penularan terbesar pada manusia itu justru dari makanan, terutama daging yang dimasak tidak sempurna serta sayuran dan buah-buahan yang tidak dicuci bersih. Lebih dari 80 persen kasus infeksi berasal dari makanan," kata Leni.

Mengenai kaitan toksoplasmosis dengan kemandulan, Dr Leni menyebutkan bahwa tidak ada bukti toksoplasmosis secara langsung menyebabkan kemandulan. "Kalau dibilang menyebabkan kemandulan secara langsung, saya rasa tidak. Namun, pada ibu hamil, infeksi toksoplasma bisa menyebabkan keguguran atau gangguan pada janin, terutama pada trimester awal," kata dia.

la juga menekankan bahwa perempuan hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan tidak perlu menyingkirkan kucing dari rumah. Yang terpenting adalah menghindari kontak langsung dengan kotoran kucing, menggunakan sarung tangan saat membersihkan litter box, serta selalu mencuci tangan hingga bersih.

"Yang paling penting itu kebersihan, termasuk kebersihan makanan dan kebiasaan cuci tangan. Jangan langsung makan setelah memegang kucing tanpa mencuci tangan," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ameera Network (@ameeranetwork)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement