REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diskon besar-besaran selama akhir tahun sering kali membuat banyak orang kalap berbelanja. Alih-alih berhemat, potongan harga justru mendorong seseorang membeli secara impulsif barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Prof Rudi Purwono, mengimbau masyarakat agar bijak berbelanja dan tidak terjebak pada perilaku konsumtif selama momen liburan akhir tahun. Menurutnya, diskon sering menciptakan ilusi berhemat yang memicu keputusan belanja secara impulsif. Padahal, tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran justru bisa membengkak dan berdampak pada kondisi keuangan setelah liburan.
"Banyak pengeluaran didorong oleh keinginan sesaat, bukan kebutuhan yang rasional," ujar Prof Rudi yang merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR, dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (26/12/2025).
la mengatakan, tren media sosial turut memperkuat perilaku tersebut. Dorongan untuk mengikuti gaya liburan orang lain atau memamerkan kebahagiaan membuat masyarakat cenderung mengabaikan pertimbangan finansial.
Untuk mengantisipasi masalah keuangan pascaliburan, Prof Rudi menyarankan penerapan penganggaran yang disiplin. la merekomendasikan agar alokasi dana untuk hiburan dan leisure selama liburan dibatasi maksimal 20-30 persen dari uang saku atau pendapatan bulanan.