Kamis 29 Feb 2024 12:09 WIB

Psikolog Ungkap Penyebab Caleg Stres dan Gejalanya

Caleg gagal cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Friska Yolandha
Ruang khusus untuk caleg yang stress karena gagal mendapatkan suara.
Foto: Dok.Republika
Ruang khusus untuk caleg yang stress karena gagal mendapatkan suara.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana, menanggapi fenomena Caleg gagal yang terkadang mengantarkan mereka ke gejala stres. Atika menjelaskan, stres secara umum adalah persepsi ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggapnya tidak dapat diatasi dengan sumber daya yang dimilikinya.

"Tekanan dan rasa malu itu muncul karena tidak terpenuhinya ekspektasi yang dimiliki sebelumnya," kata Atika, Kamis (29/2/2024). 

Baca Juga

Atika melanjutkan, terkait fenomena caleg stres, karena mereka menghadapi persoalan yang begitu kompleks. Dimana pencalegan biasanya melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga besar, partai politik, rekan kerja, hingga tim sukses.

Ketakutan yang dirasakan, lanjut Atika, bisa bertambah jika pencalonan caleg menggunakan nilai material atau transaksi. Atika menyebut, perasaan gagal dan penurunan harga diri sering kali dapat diatribusikan kepada persepsi individu tentang karakter pribadinya sendiri. 

 

Caleg yang gagal, lanjut Atika, cenderung menarik kesimpulan negatif terhadap diri mereka sendiri. Seperti merasa tidak memiliki cukup kapabilitas atau kompetensi untuk berhasil dalam dunia politik. Belum lagi validasi lingkungan dan kolom komentar media sosial yang biasanya memberikan komentar negatif atau bullying.

Atika menjabarkan, gejala seseorang mengalami stres yaitu perubahan pola makan, gangguan pola tidur, menarik diri dari lingkungan, perubahan perasaan sedih dan cemas yang signifikan, serta respon fisik seperti gangguan pencernaan. "Selain itu, gejala kognitif cenderung pelupa, banyak yang dipikirkan dalam satu waktu, sulit berkonsentrasi, dan kurangnya fokus," ujarnya. 

Atika menekankan pentingnya dukungan sosial bagi kesehatan mental dalam keadaan buruk. Ketika diberi perhatian, akan lebih memberikan rasa nyaman. Lalu, melakukan diskusi kecil untuk membantu mendapatkan perspektif berbeda, sehingga menemukan solusi alternatif.

"Jika tekanan stresor yang berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, dapat menyebabkan penurunan kesejahteraan mental yang signifikan seperti depresi," ucapnya. 

Menurutnya, strategi menjaga kesehatan mental dan fisik kurang lebih sama. Pola makan sehat, tidur yang cukup, latihan fisik olahraga, hingga mengenal diri sendiri dengan lebih baik agar dapat membantu memahami kebutuhan. Kemudian menyadari batasan dalam diri, dan dukungan sosial yang tepat.

"Sebagai anak muda diimbau untuk proaktif dalam mencari teman dan lingkungan yang sehat. Luangkan waktu untuk refleksi dan evaluasi diri secara berkala," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement