Selasa 30 Jan 2024 22:33 WIB

Isu ESG Makin Populer, Mobil Listrik dan Ketenagakerjaan Jadi Bahasan Utama

Survei menunjukkan masyarakat sudah memiliki pengetahuan tentang isu lingkungan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Friska Yolandha
Perubahan iklim (ilustrasi). Survei menunjukkan masyarakat sudah memiliki pengetahuan tentang isu lingkungan.
Foto: www.freepik.com
Perubahan iklim (ilustrasi). Survei menunjukkan masyarakat sudah memiliki pengetahuan tentang isu lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan kesadaran terhadap isu Environmental, Social, and Governance (ESG) atau Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) telah menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Tim Continuum-INDEF dan Populix melakukan analisis tentang itu.

Laporan bertajuk "Indeks Konsumen Indonesia Report: Awareness Masyarakat terhadap Isu Lingkungan" itu menggunakan data primer dan sekunder berdasarkan beberapa indikator. Analisis data primer dilakukan dengan metode big data analytics oleh Tim Continuum-INDEF dengan kolaborasi metode survei oleh Populix.

Baca Juga

Survei Populix menemukan bahwa secara umum responden sudah memiliki pengetahuan dan kesadaran yang tinggi pada topik dan isu-isu LST. Namun, persepsi responden dalam menilai kebijakan dan upaya pemerintah dalam isu LST cenderung lebih rendah. 

Dari topik lingkungan, isu kendaraan listrik memiliki persepsi yang positif, tetapi keinginan untuk beralih dan meninggalkan bahan bakar fosil masih rendah di antara responden. Untuk isu sosial, ketenagakerjaan menjadi isu yang menjadi perhatian masyarakat. 

 

Responden cenderung menilai bahwa kondisi pasar kerja di Indonesia belum terlalu baik. Pada topik tata kelola, pengetahuan mengenai isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sudah baik, tetapi persepsi terhadap upaya pemerintah dalam memerangi KKN masih cenderung kurang efektif.

Social research manager Populix, Nazmi Haddyat Tamara, menyampaikan perbedaan orang dengan tingkat pendidikan dan status ekonomi berlainan dalam memahami isu-isu ESG. Responden dengan tingkat pendidikan lebih tinggi menunjukkan pemahaman mendalam terkait topik ketenagakerjaan dan keamanan siber. 

"Begitu juga pada tingkat ekonomi, di mana responden dengan ekonomi tinggi lebih proaktif dalam menghadapi polusi udara dengan langkah-langkah perlindungan diri yang lebih lanjut," ungkap Nazmi, seperti dikutip dari pernyataan resminya.

Isu-isu sosial turut menjadi fokus perbincangan utama, dengan tiga isu utama yang dibahas yakni, ketenagakerjaan, hak asasi manusia (HAM), dan isu tahun politik. Ketenagakerjaan mendominasi perbincangan dengan lebih dari 110 ribu pembahasan selama periode observasi, mencerminkan ketidakpuasan masyarakat pada kesulitan mencari pekerjaan, dan upah/gaji yang dianggap rendah.

Respons dari media sosial dan survei menunjukkan kekecewaan terhadap kondisi pasar kerja, khususnya terkait kebijakan dan upaya pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, serta melindungi hak pekerja. Sulitnya mempertemukan antara pencari kerja dan lapangan kerja yang sesuai juga menjadi perhatian, dengan faktor seperti ekspektasi gaji yang tinggi dan persyaratan pekerjaan yang spesifik.

Isu HAM yang mengemuka mencakup berbagai topik. Itu termasuk harapan akan pemimpin dengan kesadaran HAM tinggi, pembentukan desa/kelurahan sadar hukum, pemilihan Indonesia sebagai anggota dewan HAM di PBB, dan protes terhadap kasus-kasus HAM di Indonesia. 

Sementara itu, respons positif terhadap pemahaman proses Pemilu dan Pilpres 2024 menunjukkan tingginya kesadaran politik, terutama di kalangan responden dengan pendidikan tinggi. Meskipun mereka merencanakan partisipasi aktif dalam pemilihan, sebagian besar tidak berencana untuk terlibat sebagai relawan kampanye pemilihan calon presiden tertentu. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement