Selasa 30 Jan 2024 00:08 WIB

Friendster Bakal Hadir Lagi, Mampukah Saingi Instagram dan Tiktok?

Friendster sempat menjadi 'primadona' media sosial pada masanya.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Tangkapan layar situs web Friendster. Friendster akan kembali hadir untuk meramaikan dunia media sosial.
Foto: Tangkapan layar
Tangkapan layar situs web Friendster. Friendster akan kembali hadir untuk meramaikan dunia media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Friendster akan kembali hadir untuk meramaikan dunia media sosial. Kehadirannya diharapkan bisa menjasi salah satu platform yang dikenal dan disukai oleh gen Z.

Diluncurkan pada 2002, Friendster sempat menjadi "primadona" di jagat media sosial pada masanya. Hanya saja akan menjadi PR besar bagi pemilik agar Friendster bisa kembali dilirik.

Baca Juga

Melihat pengguna platform media sosial saat ini seperti Facebook, X, Instagram, Youtube, dan Tiktok, pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, Friendster harus menyuguhkan inovasi yang baru. “Kecuali ada sesuatu yang baru yang diperkenalkan oleh Friendster, apakah itu untuk format atau apa sesuatu yang baru yang diperkenalkan, maka agak sulit sebenarnya media sosial baru untuk bisa bersaing dengan media sosial yang sudah ada sekarang,” ucap Enda saat dihubungi Republika.co.id, Senin (29/1/2024).

Sejak 22 tahun lalu, media sosial yang sudah eksis sekarang merupakan hasil dari evolusi yang besar. Untuk itu media sosial yang ada sekarang ini akan menjadi saingan yang sulit untuk dikejar bagi Friendster. 

Jika ingin melihat dari segi keberhasilan Tiktok, sebuah platform media sosial baru yang awalnya diremehkan, namun kini menjadi salah satu pilihan sumber informasi, Tiktok menawarkan hal baru, yaitu format video pendek dengan algoritma yang tidak bisa ditebak.

Selain itu, fitur efek, Tiktok Music, dan tren tarian khas, juga selalu berhasil viral di mana-mana. Belum lagi fitur Tiktok Shop yang memudahkan UMKM untuk berjualan, serta Tiktok Poin yang memudahkan konten kreator untuk mendapatkan uang dari banyaknya viewers.

Sementara Threads, bisa dibilang platform media sosial buatan Meta ini justru viral pada awal, namun lama-lama mulai sepi. Enda melihat Threads tidak memiliki sesuatu yang inovatif yang ditawarkan sebagai pembeda di antara media sosial lain. “Intinya masing-masing media sosial akhirnya perlu punya keistimewaan dari sisi format media,” kata dia.

Misalnya, kata Enda, X memiliki heavy detect, lalu Instagram sebenarnya owning image atau foto, kemudian Youtube menang pada video format panjang dan Tiktok menang pada video format pendek. Facebook merupakan campuran dari semua format, sekaligus menjadi platform media sosial yang "tua".

“Mungkin yang akan bergabung ke Friendster akan lebih banyak dalam rangka nostalgia, mengenang zaman media sosial pada saat itu yang masih baru dan masih unik ya, penggunanya juga belum banyak. Tapi kalau sekarang berbagai tantangan dan permasalahan muncul juga di media sosial jadi memang dunianya sudah berubah,” ujar Enda.

Dia tidak memiliki ekspektasi banyak pada Friendster versi terbaru ini karena belum mengetahui akan seperti apa format terbarunya. “Jadi prediksi atau perkiraan saya ke depan, kalau memang akan ada sebuah jejaring sosial baru, entah itu dia harus melayani sebuah komunitas yang spesifik atau dia harus bisa menang di sebuah format media, yang mungkin belum ada sekarang saya nggak tahu. Mungkin bisa jadi format augmented reality atau hologram atau bentuk media lain yang sekarang kita belum temukan,” jelas Enda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement