Rabu 10 Jan 2024 08:52 WIB

Apakah Orang Meniru Kejahatan yang Mereka Lihat dari Media? Ini Kata Psikolog

Kecil kemungkinan media memberikan efek pada seseorang untuk meniru kejahatan.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Friska Yolandha
Terdakwa pembunuhan dan mutilasi, Waliyin (kiri) dan Ridduan menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Yogyakarta, Rabu (22/11/2023). Kedua tersangka merupakan pelaku pembunuhan dan mutilasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Redho Tri Agustian (20) pada Juli silam. Terdakwa Waliyin (29) berasal dari Magelang, dan terdakwa Ridduan (38) berasal dari Jakarta. Dalam dakwaan JPU terungkap bahwa pembunuhan ini bermula dari grup media sosial grup Facebook BDSM. Kedua terdakwa diancam pidana Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 subsider Pasar 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Terdakwa pembunuhan dan mutilasi, Waliyin (kiri) dan Ridduan menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Yogyakarta, Rabu (22/11/2023). Kedua tersangka merupakan pelaku pembunuhan dan mutilasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Redho Tri Agustian (20) pada Juli silam. Terdakwa Waliyin (29) berasal dari Magelang, dan terdakwa Ridduan (38) berasal dari Jakarta. Dalam dakwaan JPU terungkap bahwa pembunuhan ini bermula dari grup media sosial grup Facebook BDSM. Kedua terdakwa diancam pidana Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 subsider Pasar 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melalui media sosial, banyak terjadi kasus pembunuhan sadis, yakni pelaku tega memutilasi korbannya. Terakhir, kasus pembunuhan yang dilakukan seorang suami kepada istrinya di Malang menggegerkan publik. 

Di tengah arus informasi yang begitu cepat, adakah pemberitaan di berbagai media online menjadi inspirasi untuk seseorang melakukan tindak kejahatan? Menanggapi hal ini, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Adhyatman Prabowo, menyampaikan bahwa kecil kemungkinan media memberikan efek terhadap seseorang untuk meniru kejahatan yang sama. 

Baca Juga

"Pemberitaan pada media massa sangat kecil kemungkinannya membuat orang dewasa untuk meniru atau menjadikan motivasi dalam bertindak untuk hal yang serupa," kata Adhyatman dalam keterangannya pada Rabu (10/1/2024). 

Adhyatman menambahkan, dalam teori sosial learning Albert Bandura, manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada di sekitarnya. Namun teori tersebut berlaku untuk anak-anak yang masih belum bisa menyaring segala informasi yang didapatkan dari media sosial atau media massa dengan benar dan bijak. 

 

"Tidak berlaku bagi orang dewasa yang sudah dibekali pengetahuan, cara berpikir, dan norma sosial yang secara otomatis akan menyaring berbagai informasi serta sudah dapat memutuskan mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan," ujar Adhyatman.

Adhyatman menjelaskan pada dasarnya secara umum ada dua motif atau perilaku individu ketika mengalami kejadian yang mendadak dan alasan seseorang bisa melakukan pembunuhan hingga memutilasi korbannya. Pertama, pelaku ingin menghilangkan barang bukti atau tidak ingin memperlihatkan bahwa dia telah membunuh dengan melakukan pemotongan tersebut. 

"Bisa dibilang hal itu murni sikap untuk membela diri, karena bisa jadi awalnya pelaku tidak berniat membunuh namun korban sudah terlanjur kehilangan nyawa. Kedua, faktor psikologi seperti traumatis, seksual, dan permasalahan yang belum selesai," ucap Adhyatman. 

Dalam pandangan psikologi, khususnya permasalahan keluarga, bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya karena stres dan tekanan hidup yang dialami. 

Maka dari itu, Adhyatman menyebut peran komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan. Jika komunikasi antar pasangan terjalin dengan baik, maka menurutnya saat mengalami permasalahan dalam rumah tangga kedua belah pihak bisa mengambil keputusan secara rasional tanpa emosional.

Adhyatman berpesan untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental. Secara sederhana, kesehatan mental diawali bagaimana cara berpikir, mengelola emosi, bersosial, dan berperilaku. Jika ada masalah dengan pasangan ataupun keluarga, sebaiknya segera diselesaikan. Masalah yang ditunda tanpa adanya penyelesaian akan menjadi rumit dan akhirnya sulit untuk diatasi. 

"Lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti mengikuti kegiatan positif atau saling sharing kepada orang terdekat yang dipercaya. Tujuannya untuk sedikit mengalihkan atau mengurangi beban yang sedang dialami. Ini bisa menjauhkan diri dari hal-hal negatif pemicu kejahatan," ucap Adhyatman. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement