Senin 02 Oct 2023 08:59 WIB

Mengapa Hari Batik Nasional Jatuh Tanggal 2 Oktober?

Tanggal 2 Oktober dipilih sebagai Hari Batik Nasional.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin tiba saat menghadiri acara Istana Berbatik di depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (1/10/2023). Perhelatan yang melibatkan 500 orang dalam peragaan busana batik mulai dari pejabat negara, petinggi kementerian/lembaga dan BUMN, perwakilan kerajaan-kerajaan nusantara hingga para duta besar tersebut untuk memperingati Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober.
Foto:

Seperti diungkapkan dalam Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia, sejarah batik telah dimulai sejak zaman Kerajaan Majapahit dan era penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Menurut pendapat GP Rouffaer, teknik membatik diajarkan oleh pedagang India di Pulau Jawa pada abad ke-6 atau ke-7. Namun, Dr Alfred Steinman menyebutkan bahwa batik diajarkan sejak kekaisaran Dinasti Tang di Balkan.

Istilah "batik" atau hambatik (membatik) baru diperkenalkan dalam Babad Sengkala dari Keraton Pakualam yang ditulis pada 1633. Istilah batik juga dituangkan dalam Panji Jaya Lengkara tahun 1770.

Di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, salah satu hal yang mendorong penyebaran batik adalah peperangan. Rakyat yang menghindari peperangan dengan mengungsi sering kali membawa peralatan membatiknya. Mereka lalu mengembangkan budaya batik di daerah yang mereka datangi.

Saat ini, tiap-tiap lokasi pusat batik memiliki ciri motif dan nuansa warna yang berbeda-beda. Sebagai contoh, batik yang lahir di daerah pesisir umumnya lebih kaya akan warna dan motif. Di sisi lain, motif dan nuansa warna pada batik Yogyakarta dan Surakarta mengacu pada pakem batik di masing-masing daerah.

Seiring berjalannya waktu, hampir semua wilayah di Indonesia kini memiliki motif batik sendiri. Meski tidak semua melakukan metode pembatikan yang serupa dengan metode warisan para leluhur, masyarakat giat menghasilkan kain-kain dengan motif batik yang mewakili ciri atau keunikan daerah masing-masing. Kain seperti ini tidak disebut sebagai kain batik, melainkan kain bermotif batik.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement