Senin 25 Sep 2023 20:14 WIB

Cinta dan Kasih Sayang Bisa Buat Anak Tumbuh Tinggi, Ini Bukti Ilmiahnya

Tidak dicintai oleh orang-orang terdekat menyebabkan stres emosional.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Natalia Endah Hapsari
Seorang pakar perkembangan dan pertumbuhan manusia menyatakan bahwa jika ingin anak-anak tumbuh tinggi/ilustrasi, anak-anak membutuhkan cinta, harapan, dan kebahagiaan.
Foto: unsplash
Seorang pakar perkembangan dan pertumbuhan manusia menyatakan bahwa jika ingin anak-anak tumbuh tinggi/ilustrasi, anak-anak membutuhkan cinta, harapan, dan kebahagiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika berbicara tentang tinggi badan, para orang tua mungkin berpikir itu tergantung pada gen, pola makan, dan olahraga. Namun, seorang pakar perkembangan dan pertumbuhan manusia menyatakan bahwa jika ingin anak-anak tumbuh tinggi, anak-anak membutuhkan cinta, harapan, dan kebahagiaan.

Dilansir dari Daily Mail, Senin (25/9/2023), antropolog biologi di Loughborough University, Prof Barry Bogin menyatakan, kesejahteraan emosional anak muda sangat penting untuk mencegah terhambatnya pertumbuhan.

Baca Juga

Tidak dicintai oleh orang-orang terdekat dan tidak adanya harapan akan masa depan, menyebabkan stres emosional yang berdampak buruk. “Sehingga dapat membahayakan tubuh, termasuk menghalangi hormon yang diperlukan untuk pertumbuhan dan tinggi badan,” ujar Prof Bogin.

Manusia memerlukan keterikatan sosial dan emosional yang kuat, yaitu cinta antara anak-anaknya dan orang tua (dan) antara orang-orang dari segala usia. Keterikatan itu diperlukan untuk meningkatkan hampir semua fungsi biologis, seperti pencernaan dan penyerapan makanan ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh yang baik, dan kebahagiaan secara keseluruhan, serta pandangan hidup yang positif.

Prof Bogin yang telah mempelajari bagaimana manusia tumbuh selama hampir lima dekade, mengatakan bahwa negara-negara seperti Guatemala, yang warganya hidup dalam ketidakpastian, kekacauan politik, dan rentan terhadap kekerasan, merupakan salah satu negara dengan penduduk terpendek di dunia. Rata-rata pria Guatemala memiliki tinggi sekitar 163 cm, sedangkan rata-rata wanita tumbuh sekitar 149 cm.

Prof Bogin mengatakan bahwa, di sisi lain, Belanda yang memiliki penduduk tertinggi di dunia dengan tinggi laki-laki rata-rata sekitar 183 cm dan perempuan 169 cm, memiliki kebijakan yang mendukung kepedulian sosial dan keamanan warga negaranya.

“Jika seseorang tidak memiliki keamanan, layanan kesehatan, pendidikan dan khawatir tentang masa depan, lalu tidak memiliki harapan, itulah yang menyebabkan stres kronis dan beracun dan terhambatnya hormon (yang mendorong pertumbuhan fisik),” ujar Prof Bogin lagi.

Sebagai bagian dari ulasannya, yang diterbitkan dalam Journal of Physiological Anthropology, Prof Bogin menganalisis catatan sejarah tinggi badan selama hampir dua abad dari tahun 1800-an hingga 1990-an.

Periode ini mencakup Depresi Panjang, periode resesi ekonomi global yang berlangsung dari tahun 1873 hingga 1879. Selain menyebabkan kesulitan seperti kelaparan dan penyakit, Depresi Panjang juga merugikan kesejahteraan masyarakat secara global. 

Data dari catatan sejarah tentang tinggi badan tentara, wajib militer, dan tahanan menunjukkan pria yang lahir di AS pada 1873 (pada awal Depresi Panjang) memiliki tinggi sekitar 3 cm lebih rendah, dibandingkan mereka yang lahir pada 1890 (setelah krisis ekonomi).

Di Inggris, rata-rata tinggi badan pria juga mengalami stagnasi pada periode yang sama. Ini menunjukkan sedikit peningkatan sebesar 1 cm dari 1873 hingga 1880, diikuti oleh penurunan serupa dari 1880 hingga 1890.

Setelah itu, rata-rata tinggi badan pria meningkat pesat setiap tahun kelahirannya, dari sekitar 169 cm pada 1890 menjadi 177 cm pada 1960 di AS, dan dari sekitar 167 cm pada 1890 menjadi lebih dari 176 cm pada 1960 di Inggris.

Prof Bogin mengatakan, data ini penting karena tinggi badan merupakan indikator perekonomian yang sensitif pada saat tidak ada data ekonomi, terutama untuk kelas pekerja. Dia mengatakan dalam kasus seperti ini, genetika, pola makan, dan aktivitas fisik tidak dapat menjelaskan perubahan tinggi badan.

Namun, ia juga menambahkan bahwa periode krisis global lainnya, seperti Depresi Besar pada 1930-an serta Perang Dunia Pertama dan Kedua, tidak memiliki dampak yang sama terhadap tinggi badan. Mungkin karena Pemerintah Inggris dan Amerika Serikat melakukan pekerjaan umum secara besar-besaran, program yang membuat orang bekerja.

“Mereka tidak menghasilkan banyak uang tetapi memiliki pekerjaan dan penghidupan sangat penting untuk harga diri, dan harapan untuk masa depan. Jadi menurut saya, ada sikap yang mencerahkan dari pemerintah saat itu,” kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement